NADIKABAR.COM — Jejak mural Malang The Glory Land menghiasi dinding di Jalan Arif Rahman Hakim, Kecamatan Klojen, Kota Malang, lenyap setelah ditimpa mural baru.

Mural melegenda digambar sejak 2016 lalu, berganti menjadi Malang Menyala Bersama yang dibuat oleh Malang Creative Fusion (MCF), yang merupakan inisiator gelaran Festival Mbois 11 Malang Menyala yang akan digelar pada 21-23 Agustus di Stadion Gajayana, Kota Malang.

Perubahan mural sepihak itu kemudian memicu reaksi dari beragam komunitas termasuk suporter yakni Aremania.

Juru bicara Aremania Utas, Dandy Harisandy, mengaku cukup menyayangkan dengan adanya aksi pengubahan mural itu. Tanpa mengawali dahulu pembicaraan dengan pihak yang membuat mural sebelumnya.

"Sangat menyayangkan apa yang telah dilakukan oleh kawan-kawan panitia (Malang Menyala) karena tidak ada klarifikasi ataupun pemberitahuan kepada yang menginisiasi tulisan atau yang membuat tulisan sebelumnya," kata Dandy ditemui wartawan di lokasi, Kamis (20/8/2026).

Dandy menjelaskan, meskipun mural Malang The Glory Land bukan resmi milik organisasi. Namun, Aremania Utas memiliki tanggung jawab moral untuk menengahi persoalan yang terjadi.

"Bagaimanapun juga Kita sesama Aremania, meskipun ini bukan milik organisasi. Tapi mau tidak mau secara normatif berbicara Aremania di Malang ataupun ke yang lainnya, pasti kita yang pertama kali sebagai organisasi dimintai keterangan," tegasnya.

Menurut Dandy, Aremania Utas sebagai organisasi berdiri sebagai penengah agar persoalan yang terjadi tidak merembet kepada hal-hal yang tak diinginkan.

"Kami ini di sini hanya sebagai penengah atau mediator supaya permasalahan ini tidak berlarut-larut ataupun menjadi permasalahan-permasalahan berikutnya, ataupun nanti ada tindakan-tindakan yang tidak diinginkan," tuturnya.

Aremania Utas pun meminta pihak panitia Malang Menyala ataupun MCF bertanggung jawab dan mempunyai itikad baik, termasuk menyampaikan permintaan maaf terbuka. Karena telah mengubah mural Malang The Glory Land dengan tulisan baru.

"Kami harap dari panitia yang tidak mengklarifikasi ini atau melakukan perbuatan sepihak ini agar ada klarifikasi kepada yang memiliki tulisan ini dan legawa meminta maaf ataupun bertanggung jawab," tegasnya.

"Baik pengecatan ulang ataupun apa yang diminta oleh rekan-rekan dari yang mempunyai tulisan ini supaya ada legowo. Tidak ada ganjalan lagi atau akan menjadi pemikiran yang negatif ataupun kurang baik," sambungnya.

Sementara pantauan NadiKabar pada Kamis sore, sejumlah orang dari panitia Malang Menyala serta MCF terlihat berjibaku menutup tulisan Malang Menyala Bersama dengan pengecatan ulang warna biru.

Proses penutupan tulisan dengan cat baru tersebut dipantau langsung oleh sejumlah pengurus Aremania Utas di lokasi.

Seperti diberitakan, gelombang kekecewaan melanda masyarakat dan suporter Aremania usai mural legendaris Malang The Glory Land di Jalan Arif Rahman Hakim, Kota Malang, mendadak hilang ditimpa lukisan baru.

Karya yang menjadi ikon visual sejak 2016 itu kini berganti tulisan Malang Menyala Bersama untuk menyambut rangkaian Festival Mbois 11.

Kritikan atas timpahan mural Malang Menyala Bersama mengalir deras di media sosial. Penggantian mural Malang The Glory Land menjadi simbol komunitas suporter Malang ini pun menuai kecaman.