Setelah menjalani perawatan intensif, kondisi Mak Yatmi dinyatakan membaik dan stabil hingga diizinkan pulang ke kediaman anaknya pada Kamis, 27 Agustus 2026, sekitar pukul 11.00 WIB.

Ketenangan itu tak berlangsung lama. Pada Rabu, 2 September 2026, pukul 06.30 WIB, kabar kritis kembali datang, kondisi fisik Mak Yatmi kembali menurun drastis.

Menerima laporan darurat tersebut, Tim Dokkes Polres Sukabumi bergegas meluncur menggunakan ambulans. Namun, setibanya di dekat lokasi, kendaraan roda empat itu terhenti di depan jembatan kayu lapuk yang tak bisa dilintasi. Petugas medis terpaksa berjalan kaki menembus jalan tanah menanjak sambil memanggul ransel perlengkapan darurat.

Di kamar tidur berselendang tirai hijau, Mak Yatmi terbaring lemah berbalut selimut merah muda bergambar stroberi. AKP Bayu Sunarti tampak duduk bersimpuh tepat di samping ranjang, mengusap bahu sang nenek sembari berbisik lirih di telinganya.

"Mak, yang semangat ya menjalani hidup, senantiasa beristigfar terus ya Mak..." bisik Bayu dengan nada bergetar dan pandangan penuh rasa iba.

Seluruh ikhtiar medis dan doa tulus telah dipanjatkan, namun kehendak Sang Khalik tak dapat ditolak. Tepat pukul 07.45 WIB di hari yang sama (2/9), Mak Yatmi mengembuskan napas terakhirnya di pembaringan tersebut.

Keesokan harinya, Kamis, 3 September 2026, sekitar pukul 10.00 WIB, suasana haru dan isak tangis menyelimuti pelepasan jenazah. Personel kepolisian bersama warga menggotong keranda berbalut kain hijau menuju peristirahatan terakhirnya di TPU Kampung Cisaat.

Rumah permanen yang dibangun tulus oleh jajaran korps Bhayangkara kini telah tegak berdiri kokoh. Namun, Mak Yatmi telah lebih dulu berpulang ke haribaan Sang Pencipta sebelum sempat menikmati "istana" barunya.