NADIKABAR.COM — Sebuah unggahan video di akun media sosial resmi jajaran Polres Sukabumi mendadak viral dan menyentuh hati warganet.

Tayangan berdurasi sekitar tiga menit itu menyajikan potret getir kehidupan Mak Yatmi, seorang lansia pemulung di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, yang setia menjadi tulang punggung keluarga demi merawat suaminya, Abah Koko, yang mengalami kebutaan.

Informasi dihimpun NadiKabar, kisah kemanusiaan ini bermula pada Kamis, 6 Agustus 2026, sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu, personel Polsek Simpenan tengah menyalurkan bantuan makanan dalam program "Polres Sukabumi Berbagi Berkah".

Saat tiba di salah satu kediaman warga, dari balik pintu kayu lapuk, petugas dihadapkan pada pemandangan rumah warga dengan kondisi yang memilukan.

Lantai tanah berserakan tumpukan kardus rongsokan, fasilitas jamban luar rusak parah tak layak pakai, hingga tungku masak tradisional yang pekat diselimuti jelaga dan abu kayu.

"Saya kaget, saat itu melihat kondisinya memprihatinkan, benar-benar tidak layak," tutur Kapolsek Simpenan, AKP Bayu Sunarti menceritakan kisah Mak Yatmi kepada NadiKabar, Minggu (6/9/2026).

Bayu kemudian melaporkan kondisi warga kurang mampu tersebut kepada pimpinannya, Kapolres Sukabumi AKBP Benny Cahyadi.

Mendapat informasi tersebut, pada Selasa, 18 Agustus 2026, sekitar pukul 13.00 WIB, AKBP Benny Cahyadi langsung turun ke lokasi didampingi sejumlah anggotanya.

Dalam rekaman video, Benny tampak berjongkok di bibir pintu gubuk yang reot, menatap lekat wajah lelah Mak Yatmi dan Abah Koko yang duduk bersimpuh di lantai papan.

"Rumahnya mau saya rapihin nggak, Mak? Mau? Saya bagusin ya," ucap Benny menawarkan renovasi tempat tinggal, seperti dilihat NadiKabar dari video tersebut.

Tawaran tulus perwira melati dua itu langsung disambut anggukan haru dan pasrah dari Mak Yatmi.

Tak menunggu lama, Benny bergegas menuju pekarangan depan. Melalui sambungan telepon seluler, ia menghubungi Camat Simpenan secara langsung untuk meminta izin merenovasi total gubuk milik warganya tersebut.

"Pak Camat izin, punten. Berkenan saya mau minta izin kalau boleh, ada warga kita kan kondisinya memprihatinkan. Saya izin renovasi ya? Ya, saya minta izin untuk renovasi. Makasih Pak Camat, sehat selalu," tutur Benny dalam percakapan teleponnya.

Sebelum pembongkaran dilakukan, tim Kedokteran Kepolisian (Dokpol) lebih dulu memeriksa kondisi fisik kedua lansia tersebut. Pasutri renta ini kemudian digendong dan dievakuasi sementara ke Mapolsek Simpenan.

Tepat pukul 14.30 WIB di hari yang sama, aksi gotong royong dimulai. Tali tambang ditarik beramai-ramai oleh warga dan aparat kepolisian hingga gubuk lapuk itu roboh rata dengan tanah.Dinding batako baru mulai dipasang, adukan semen mulai diratakan, dan harapan akan hunian permanen yang layak perlahan menjelma nyata.

Keesokan harinya, Rabu, 19 Agustus 2026, sekitar pukul 10.00 WIB, Mak Yatmi dan sang suami dijemput oleh pihak keluarga untuk tinggal sementara di rumah sang anak sembari menanti renovasi rampung.

Namun, takdir berkata lain. Di tengah proses pembangunan, kondisi kesehatan Mak Yatmi mendadak drop. Pada Jumat, 21 Agustus 2026, sekitar pukul 14.00 WIB, sang nenek dilarikan ke RSUD Palabuhanratu untuk mendapatkan penanganan intensif.

Hasil diagnosa dokter yang menangani dr. Adha menunjukkan Mak Yatmi mengalami komplikasi sejumlah penyakit serius, mulai dari hipertensi, gangguan jantung, infeksi paru, hingga kekurangan nutrisi kronis.

Setelah menjalani perawatan intensif, kondisi Mak Yatmi dinyatakan membaik dan stabil hingga diizinkan pulang ke kediaman anaknya pada Kamis, 27 Agustus 2026, sekitar pukul 11.00 WIB.

Ketenangan itu tak berlangsung lama. Pada Rabu, 2 September 2026, pukul 06.30 WIB, kabar kritis kembali datang, kondisi fisik Mak Yatmi kembali menurun drastis.

Menerima laporan darurat tersebut, Tim Dokkes Polres Sukabumi bergegas meluncur menggunakan ambulans. Namun, setibanya di dekat lokasi, kendaraan roda empat itu terhenti di depan jembatan kayu lapuk yang tak bisa dilintasi. Petugas medis terpaksa berjalan kaki menembus jalan tanah menanjak sambil memanggul ransel perlengkapan darurat.

Di kamar tidur berselendang tirai hijau, Mak Yatmi terbaring lemah berbalut selimut merah muda bergambar stroberi. AKP Bayu Sunarti tampak duduk bersimpuh tepat di samping ranjang, mengusap bahu sang nenek sembari berbisik lirih di telinganya.

"Mak, yang semangat ya menjalani hidup, senantiasa beristigfar terus ya Mak..." bisik Bayu dengan nada bergetar dan pandangan penuh rasa iba.

Seluruh ikhtiar medis dan doa tulus telah dipanjatkan, namun kehendak Sang Khalik tak dapat ditolak. Tepat pukul 07.45 WIB di hari yang sama (2/9), Mak Yatmi mengembuskan napas terakhirnya di pembaringan tersebut.

Keesokan harinya, Kamis, 3 September 2026, sekitar pukul 10.00 WIB, suasana haru dan isak tangis menyelimuti pelepasan jenazah. Personel kepolisian bersama warga menggotong keranda berbalut kain hijau menuju peristirahatan terakhirnya di TPU Kampung Cisaat.

Rumah permanen yang dibangun tulus oleh jajaran korps Bhayangkara kini telah tegak berdiri kokoh. Namun, Mak Yatmi telah lebih dulu berpulang ke haribaan Sang Pencipta sebelum sempat menikmati "istana" barunya.