Eisenkot sebelumnya menyatakan terbuka untuk bekerja sama dengan fraksi Arab demi meraih sedikitnya 61 kursi, ambang mayoritas yang dibutuhkan untuk menguasai Knesset.

Koalisi Yahudi-Arab akan menjadi tonggak politik penting di tengah tingginya antagonisme antaretnis di Israel. Salah satu partai Arab, Joint List, pada Rabu malam menyebut pemilu menciptakan konstelasi kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Partai itu juga mengapresiasi pemilih Yahudi yang bersedia melawan tren rasisme dan memberikan suara bagi koalisi Arab. Mereka menyatakan terbuka terhadap kerja sama politik.

Dukungan kepada partai-partai Arab bahkan muncul di jalanan. Sejumlah kecil massa berpawai di Tel Aviv dan Yerusalem pada malam hari. Di Yerusalem, kota yang dikenal lebih konservatif, gagasan tersebut berseberangan dengan tatanan politik yang selama ini berlaku.

Sebelum 2021, tak pernah ada partai Arab yang bergabung dalam koalisi pemerintahan di Israel. Keterlibatan saat itu pun hanya berumur singkat.

Saat ini, barisan koalisi PM Netanyahu berusaha menggugat legitimasi suara partai Arab. Partai Likud, meski memperoleh suara terbanyak sebagai partai tunggal, menuduh partai-partai Arab mencuri kemenangan dan meminta komisi pemilihan menyelidikinya. Namun, mereka tidak menyertakan bukti spesifik untuk mendukung tuduhan tersebut. Komisi pemilihan menyatakan jumlah laporan pelanggaran dalam pemungutan suara tergolong rendah.

Pekan depan, Presiden Israel Isaac Herzog akan menunjuk seseorang untuk membentuk pemerintahan baru. Secara tradisional, tugas itu diberikan kepada pemimpin partai dengan suara terbanyak. Namun, aturan tersebut bukan kewajiban mutlak.

Jika beberapa upaya pembentukan pemerintahan gagal, Israel berpotensi kembali menggelar pemilu pada awal tahun depan. Herzog pada Rabu memberi isyarat ingin menghindari skenario itu. Eisenkot juga menyatakan sikap serupa.

Pemilu ulang akan membawa persoalan baru. Apakah warga Arab kembali datang ke tempat pemungutan suara dalam jumlah besar? Apakah puluhan ribu warga Israel yang terbang pulang demi memberikan suara bersedia melakukannya lagi? Banyak di antara mereka sebelumnya mengatakan pulang ke tanah air untuk menyelamatkan Israel dari Netanyahu.

Pemilu tahun ini digelar di tengah tingginya tensi sosial di Israel. Masyarakat terbelah oleh garis pemisah etnis, agama, dan ideologi: Yahudi dan Arab, sekuler dan religius.