NADIKABAR.COM — Hasil rekapitulasi pada Kamis (29/10) sudah mencapai 90%, namun, peta politik yang mulai terbentuk menunjukkan satu hal: tak ada blok yang meraih mayoritas kursi parlemen, baik kubu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu maupun barisan oposisi pimpinan Gadi Eisenkot.

Israel kini menghadapi babak negosiasi politik yang rumit. Dalam beberapa pekan mendatang, partai-partai Yahudi harus menentukan arah koalisi, sementara partai-partai Arab sejak awal dijauhi kendati mampu menentukan mayoritas.

Partai-partai di barisan oposisi bisa saja mengingkari janji kampanye untuk menggulingkan Netanyahu dan justru bergabung dengan perdana menteri yang dimusuhi. Selama tarik-ulur berlangsung, Netanyahu tetap memegang kendali pemerintahan.

Hasil resmi diperkirakan keluar paling cepat Kamis malam, setelah sekitar setengah juta surat suara khusus dihitung. Suara itu berasal dari personel militer, diplomat, narapidana, pasien rumah sakit, dan pemilih lain yang tidak menggunakan tempat pemungutan suara biasa. Jumlah suara khusus diperkirakan tak akan mengubah peta perolehan kursi secara berarti.

Sejumlah media lokal memproyeksikan blok Netanyahu memperoleh 53 kursi, partai-partai oposisi 48 kursi, dan partai-partai yang dipimpin warga Arab 19 kursi. Dengan total 120 kursi di Knesset, parlemen Israel, tak satu pun kelompok mampu membentuk pemerintahan tanpa dukungan pihak lain.

Menurut harian The Times of Israel, sebanyak 5.695.682 warga telah memberikan suara hingga Rabu (28/10) malam. Angka itu naik dari 70,6 persen pada pemilu 2022 dan menjadi tingkat partisipasi tertinggi pada jam tersebut sejak 1999.

Pada Rabu dini hari, Gadi Eisenkot, mantan panglima militer yang menjadi pesaing utama Netanyahu, menyampaikan pernyataan publik pertamanya saat berpidato di hadapan pendukung. Dia menjanjikan pemerintahan yang melayani seluruh warga dan mencerminkan kehendak rakyat.

Dia tidak secara terbuka menyebut kemungkinan berkoalisi dengan partai-partai Arab. Padahal, perolehan suara minoritas mencatatkan hasil kuat, antara lain berkat warga Arab yang memutuskan menggunakan hak pilih, setelah bertahun-tahun memilih jadi golongan putih akibat diskriminasi di Israel.

Portal berita Israel Ynet melaporkan tingginya partisipasi di sejumlah komunitas Arab. Di Sakhnin angkanya mencapai 83,5 persen, Kafr Qasim 81,3 persen, dan Rahat 79,8 persen. Meski, tingkat partisipasi tidak merata di seluruh kantung suara, bisa dipastikan, jumlah kursi fraksi Arab di parlemen bertambah dari yang saat ini hanya sepuluh.