"Canpuran material lokal tadi kemudian diaplikasikan untuk dinding dengan teknik dinding bertulang menggunakan anyaman bambu, fungsinya untuk menjaga agar material tanah tetap berdiri tegak," kata Misbah.

Pembangunan rumah di lahan pribadi itu melibatkan sejumlah pekerja, volunteer, hingga arsitek dari beberapa negara. Dalam praktiknya, keterlibatan berbagai pihak ini memantik kembali kebiasaan yang sudah lama memudar di masyarakat Tanah Air.

"Jadi banyak yang terlibat, selain tukang (pekerja bangunan) itu ada volunteer, teman-teman arsitek yang datang silih berganti. Akhirnya kegiatan ini memantik aktivitas gotong royong yang dulu jadi kebiasaan masyarakat kita," kata Misbah.

Material tanah dan jerami yang digunakan memberikan nuansa berbeda dibanding rumah konvensional. Karakteristik tanah yang mampu menyerap panas menjaga suhu ruangan tetap sejuk saat siang hari. Sebaliknya, saat malam dingin melanda, tanah yang menyimpan panas membuat bagian dalam rumah tetap hangat.

"Ada perbedaan suhu ruang dengan di luar rumah, misalnya kalau di musim panas ini bisa sampai 30 derajat nah di dalam rumah itu masih 26 derajat. Kalau malam, suhu udara bisa sampai 17 misalnya, nah di dalam rumah itu sekitar 21 sampai 22 derajat, jadi nyaman," kata Misbah.