Muncul pertanyaan di benak, bagaimana ketahanan konstruksi 'rumah tanah' ini ketika terjadi gempa bumi? Misbah mengklaim bahwa tulangan bambu yang menjadi penopang di dalam tanah mampu bergerak fleksibel mengikuti getaran saat gempa terjadi.

"Jadi saya sempat coba racikan tanah dicampur jerami dan tanah dengan pasir saja, hasilnya yang pakai jerami itu lebih aman enggak ada retak. Rumah saya waktu gempa kemarin juga aman, karena tulangan bambunya fleksibel," kata Misbah.

Rumah yang dibangun selama setahun itu tetap memerlukan biaya yang tak sedikit dalam prosesnya. Meskipun menurut Misbah, biaya yang dikeluarkan dapat tereduksi hingga 40 persen dibandingkan biaya pembangunan hunian konvensional.

"Biaya sekitar Rp300 jutaan, yang mahal itu justru material kayu seperti kusen pintu, jendela, sama furniture. Kalau material lokal seperti tanah, masih murah. Saya juga pakai tanah dari kolam yang digali di halaman sini. Total kebutuhannya sekitar 10 kubik, ditambah pasir dan jerami," ujar Misbah.