"Tari Belentung ini terdiri dari 14 gerakan. Sebanyak tujuh gerakan menggambarkan hubungan manusia dengan alam, sementara tujuh gerakan lainnya menggambarkan relasi manusia dengan Tuhan," ujar Ocky.

Puncak dari tarian tersebut terdapat dalam sebuah gerakan yang menyerupai orang sedang berdzikir. Gerakan itu menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan filosofi Tari Belentung.

"Puncak dari tarian ini terdapat pada sebuah gerakan yang menyerupai orang sedang berdzikir. Gerakan tersebut memiliki makna bahwa pada akhirnya manusia kembali kepada Tuhan melalui jalan kebudayaan," jelasnya.

Proses penciptaan Tari Belentung pun tidak berlangsung singkat. Ocky menyebut garapan tarian tersebut membutuhkan waktu hampir dua tahun dan akhirnya tercipta pada 2018.

"Garapan Tari Belentung ini memakan waktu hampir dua tahun, tercipta di tahun 2018. Prosesnya mencakup penyusunan naskah, pengembangan teater tubuh dan drama tubuh, hingga penciptaan gerak tari," ungkap Ocky.

Dalam proses kreatif tersebut, Ocky secara khusus merancang dan mengembangkan unsur drama tubuh yang menjadi salah satu napas dalam pertunjukan Tari Belentung.

"Untuk napas drama tubuh dalam pertunjukan ini, saya yang merancang dan mengembangkannya," katanya.

Tari Belentung kemudian berkembang dan diperkenalkan kepada masyarakat luas. Bahkan, pada tahun yang sama, tarian tersebut pernah masuk dalam Rekor RHR.

"Tari Belentung juga pernah masuk dalam rekor RHR pada 2018. Saat itu, sebanyak 2.700 orang menampilkan Tari Belentung di Festival Tanah Air Konser Kampung yang di mana momentum pembukaannya didirect oleh Komunitas Hujan Keruh," pungkas Ocky.

Sementara itu, pencipta gerak Tari Belentung, Ecin Kuraisin menjelaskan, tarian tersebut juga mengambil inspirasi dari seekor kodok. Hewan itu memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Jatitujuh yang sejak lama dikenal sebagai wilayah agraris.