Menurut Ecin, keberadaan kodok menjadi gambaran kesuburan alam dan kekayaan yang dimiliki masyarakat. Sebab, keberadaan sawah dan air menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat agraris.

"Tari Belentung ini menggambarkan seekor kodok. Kenapa digambarkan seekor kodok? Karena di Jatitujuh ini banyak ada pembangunan. Pembangunan bandara (di Kertajati) waktu itu, terus hotel-hotel. Jadi otomatis sawah-sawah itu pada habis oleh pembangunan," ujar Ecin.

Perubahan itulah yang kemudian menjadi salah satu inspirasi lahirnya tarian tersebut. Bersama para seniman lainnya, Ecin ingin menghadirkan sebuah karya tari kreasi tradisi yang memiliki ciri khas Jatitujuh.

"Nah, dengan itu saya terinspirasi dengan teman-teman, dengan Mas Ocky, dengan Om Ketut, kita membuat sebuah ciptaan tarian dengan gambaran Tari Belentung itu," katanya.

Menurut Ecin, sejumlah gerakan dalam Tari Belentung menggambarkan kodok yang berjalan dan berjengkrak dengan penuh kegembiraan. Ada pula gerakan sembah yang menggambarkan rasa syukur atas kekayaan alam.

"Sembah itu menggambarkan bahwa kita bersyukur. Bahwa dengan tarian kodok ini, kalau ada kodok itu kan kita berlimpah ruah. Dengan adanya kodok bahwa kita ini masyarakat Jatitujuh ini kaya," tutur Ecin.

Gerakan Tari Belentung juga sengaja dibuat sederhana agar mudah dipelajari oleh masyarakat. Dengan begitu, tarian tersebut diharapkan dapat terus diwariskan dan dilestarikan oleh generasi berikutnya.

"Gerakan ini ingin masyarakat Jatitujuh dan sekitarnya bisa melakukannya dan mereka bisa mencermati, bisa mempelajari untuk bisa dilestarikan. Jadi kami membuat tarian kreasi baru tradisi ciri khas Jatitujuh," jelasnya.

Ecin berharap Tari Belentung dapat terus berkembang pada masa mendatang. Baginya, tarian bukan hanya menjadi karya seni, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mempererat kebersamaan masyarakat.

"Harapannya Tari Belentung ini lebih berkembang lagi untuk nanti masa depannya, karena dengan tarian Belentung ini bisa mempersatukan masyarakat dengan tarian," pungkasnya.