Arif mengatakan salah satu upaya yang dilakukan untuk membantu pemasaran adalah dengan memaksimalkan media sosial. Dalam akun Instagram Kampung Kaleng, misalnya, Arif bersama tim mengemas berbagai produk para perajin dengan kemasan konten menarik.
"Makanya akhirnya yaudah ada media sosial, ada website, itu untuk membagi traffic-nya. Biar tidak selalu bergantung pada itu," jelasnya.
Tidak hanya melalui media sosial, upaya pemasaran yang dilakukan oleh Arif pun merambah ke marketplace dengan menghadirkan toko online di Shopee, Kampung Kaleng. Toko online yang dibuat 11 tahun lalu itu saat ini telah memiliki berbagai macam pelanggan.
Bahkan, jumlah orderannya pun sudah mencapai puluhan ribu dan mendapatkan penilaian 4,7 dari 5. Adapun produk yang cukup laris yakni kaleng kerupuk besar atau mini, celengan, panggangan ikan, cetakan kue, dan lain sebagainya.
Dia mengatakan pada masa COVID-19, beragam produk tersebut laris manis dibeli oleh para pelanggan. Sebab, aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) memaksa banyak orang untuk beraktivitas di rumah dengan melakukan sejumlah kegiatan, salah satunya membuat kue.
"Itu ya pernah sampai ribuan ya. Ribuan pesanan per bulan. Apalagi kalau menjelang Hari Raya ya," ungkap Arif.
Arif mengatakan dalam mengembangkan bisnis tersebut bukan perkara mudah. Sebab, ada sejumlah tantangan yang kerap dirasakan olehnya, salah satunya terkait kenaikan harga bahan baku.
Saat ini, dia mengatakan sejumlah perajin mengeluhkan kenaikan bahan baku sekitar 20%. Menurutnya, kenaikan harga tersebut membuat Kampung Kaleng harus melakukan perubahan harga setiap minggunya.
Data London Metal Exchange (LME) mencatat harga aluminium sudah mengalami kenaikan lebih dari 13% sejak perang AS-Israel vs Iran pada 28 Februari. Bahkan, sepanjang 2026 kenaikan sudah mencapai 19% dan mencapai level tertinggi sejak 2022 lalu.
Kenaikan tersebut juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor, salah satunya penutupan Selat Hormuz. Sekitar 7% aluminium dunia berasal dari Timur Tengah yang memanfaatkan Selat Hormuz untuk distribusinya.
"(Bahan baku) naik bisa 20%. Setiap minggu kita bikin harga terbaru," jelasnya.
Produk Kabupaten Dilirik Negara Tetangga
Arif mengatakan produk kerajinan tersebut tidak hanya laris manis di pasar domestik, tetapi juga dilirik oleh negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina. Meskipun belum berskala besar, Arif mengatakan Kampung Kaleng pernah melakukan ekspor ke dua negara tersebut.
Menariknya, secara nasional ekonomi kreatif tergolong memiliki potensi yang besar untuk dilirik oleh pasar mancanegara. Data Badan Pusat Statistik 2025 menyebutkan sektor fesyen, kriya, dan kuliner menempati posisi tertinggi dengan nilai ekspor yang cukup tinggi.
Berdasarkan angka total nilai ekspor ekonomi kreatif (ekraf) periode Januari-Oktober 2025, kategori fesyen tembus US$ 14.860,9 juta, kriya US$ 11.101,0 juta, dan kuliner US$ 645,1 ribu. Sementara itu, untuk nilai ekspor periode Januari-Oktober 2025, US$ 8,32 miliar (Amerika), US$ 3,57 miliar (Switzerland), dan US$ 1,32 miliar (Japan).
"Ya kalau bahasanya sih sebenarnya bukan ekspor gede-gedean. Dari yang pake kontainer itu nggak sih. Paling ke luar pernah. Cuma memang kuantitinya nggak banyak. Pernah besar itu paling 2000 pcs. Belum sampai yang kontainer-kontaineran belum. Karena itu kan harus bayarnya harus besar ya. Kalau cuma kayak ke Malaysia, ke Filipina," ungkapnya.
Arif mengatakan pihaknya pun gencar mengikuti sejumlah pelatihan untuk memaksimalkan potensi pasar global. Menurutnya, pelatihan ekspor membantu dirinya untuk membaca keinginan pembeli dari luar negeri.
"Ya saya pula ikut pelatihan Program Ekspor Shopee. Saya ikut Kampus Shopee," tuturnya.
Suara Tak-Tek-Tok Bantu Lahirkan Lapangan Kerja Baru
Ekosistem yang terbentuk dari industri kerajinan kaleng tidak hanya sebatas menghadirkan perajin hingga pembeli dari dalam dan luar negeri. Namun, juga melahirkan pekerjaan baru, yakni host dan spesialis media sosial. Kehadiran pekerjaan baru tersebut menambah warna baru dalam melakukan promosi di ranah digital.
Dalam sebuah riset yang dirilis oleh AdWeek pada 2020 lalu menyebutkan peran konten video memberikan pengaruh cukup besar kepada konsumen untuk membeli suatu produk. Menariknya, laporan tersebut juga menyebutkan konten video membuat 70% konsumen akan merasa terhubung dengan suatu merek serta bisa mendorong mereka untuk menghabiskan uang hingga dua kali lipat.