Lebih lanjut, Nanang menjelaskan bahwa pengalihan infrastruktur ini merupakan bagian transformasi korporasi dari operating holding menjadi strategic holding dengan menerapkan model HoldCo-OpCo (Holding Company-Operating Company
"Oleh sebab semakin fokus, kami ingin memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan bisnisnya secara lebih agile dengan lini usaha yang terkonsentrasi. Sementara, Telkom dapat lebih mempertahankan infrastruktur strategis seperti penguatan data kelola dan sinergi penciptaan nilai di tingkat grup," tuturnya.
Ke depan, seperti dikatakan Nanang bahwa pihaknya berharap Infranexia dapat menjadi salah satu kapital katalis bagi sumber pendapatan Telkom Group.
"Menciplakan keuntungannya berkelanjutan, sekaligus memberikan kontribusi yang semakin kuat terhadap kinerja serta value creation bagi pemegang saham dan seluruh pemegang kepentingan," ucap Nanang.
Setelah rampungnya proses pengalihan portofolio bisnis dan aset, InfraNexia akan memiliki lebih dari 90% total aset infrastruktur jaringan yang sebelumnya dimiliki oleh Telkom. Aset tersebut mencakup jaringan akses ke pelanggan hingga core backbone serta infrastruktur pendukung lainnya.