NADIKABAR.COM — Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro mengajak masyarakat Kawasan Transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, mengolah pangan lokal menjadi sajian bergizi untuk mendukung pemenuhan gizi dan pencegahan stunting. Program bertajuk Sagu Sapa (Sajian Gizi Unggul, Lestarikan Pangan Lokal) ini menyasar kader kesehatan dan pelaku UMKM.

Kegiatan yang berlangsung di Aula UPTD Puskesmas Senggi pada Sabtu (12/9) ini diikuti 21 peserta dari unsur kader Posyandu, Posbindu, Malaria, serta pelaku UMKM. Para peserta mengikuti workshop dan praktik langsung pengolahan berbagai bahan pangan yang mudah ditemukan di wilayah tersebut, seperti pisang, keladi, petatas, dan sagu.

Bahan pangan lokal tersebut kemudian akan diolah menjadi empat produk inovatif, yakni Sapa Boladi berupa bolu keladi, Sapa Bronana berupa brownies pisang, Sapa Kita berupa cookies petatas, serta Sapa Sagara berupa cookies sagu dan gula merah. Para peserta juga dibagi dalam lima kelompok untuk mempraktikkan langsung tahapan pengolahan bahan pangan menjadi berbagai sajian tersebut.

Ketua Tim 4 Ekspedisi Patriot Undip Diana Nur Afifah menjelaskan Sagu Sapa dirancang agar manfaat kegiatan tidak berhenti setelah pelatihan selesai.

"Para kader diharapkan dapat menjadi penggerak yang meneruskan pengetahuan dan keterampilan ini kepada keluarga dan masyarakat, sementara pelaku UMKM dapat mengambil peran dalam mengembangkan inovasi pangan lokal menjadi produk yang layak dipasarkan," ujar Diana dalam keterangan tertulis, Jumat (25/9/2026).

Mama mery selaku peserta kegiatan menjelaskan pelatihan ini juga memberikan cara pandang baru bagi masyarakat Senggi dalam memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar.

"Mungkin selama ini kami mengolahnya seadanya saja. Kami sangat bersyukur dengan adanya kegiatan ini karena bisa menambah ilmu baru. Mudah-mudahan apa yang kami dapat bisa kami bagikan lagi kepada saudara atau teman-teman yang juga berminat," ujar Mery.

Pemanfaatan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat ini juga sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk melalui pemenuhan gizi dan pencegahan stunting. Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya pada puncak HUT ke-28 PAN di JICC, Jakarta, 18 September 2026, juga menegaskan pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi bagi masa depan anak-anak Indonesia.

"Saya tidak ingin membiarkan masih ada rakyat Indonesia yang hidup dalam kelaparan atau anak-anak yang kehilangan masa depan akibat kekurangan gizi," tegas Presiden Prabowo beberapa kala itu.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono juga menegaskan pendekatan pembangunan yang memberikan manfaat bagi masyarakat dalam forum BRICS pada 25 Juni 2025.

"Membangun infrastruktur berkelanjutan itu perlu, tetapi belum cukup. Kita juga harus membangun kesempatan. Tidak boleh ada yang tertinggal," ujar AHY pada saat itu.

Prinsip tersebut juga yang kemudian menjadi sebuah pesan bagi Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara kepada peserta Tim Ekspedisi Patriot pada 21 September 2026. Ia meminta para peserta TEP tidak berhenti pada kegiatan penelitian, tetapi meninggalkan solusi yang dapat diteruskan masyarakat.

"Jangan hanya meninggalkan laporan. Tinggalkan karya. Tinggalkan solusi. Dan yang paling penting, tinggalkan manfaat yang terus dirasakan masyarakat," ujarnya.

Pesan tersebut juga tercermin dalam pelaksanaan program Sagu Sapa yang tidak hanya memberikan pelatihan pengolahan pangan kepada masyarakat Senggi. Kegiatan ini juga mendorong pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan untuk diteruskan melalui kader kesehatan dan dikembangkan oleh pelaku UMKM sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

Sebagai informasi, pengolahan pangan lokal melalui Sagu Sapa diharapkan dapat terus dikembangkan setelah kegiatan berlangsung dengan memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan masyarakat.

Kader kesehatan diharapkan dapat melanjutkan edukasi mengenai pangan dan gizi, sementara pelaku UMKM dapat mengembangkan olahan pangan lokal menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan peluang ekonomi.