Dalam kunjungan tersebut, Maya juga memimpin timnya mengunjungi dan belajar di Universitas Pengobatan China Jiangxi (Jiangxi University of Chinese Medicine) serta rumah sakit afiliasinya, dengan harapan dapat membawa teknik moksibusi sensitif panas kembali ke Indonesia."Ketika saya mempelajari akupunktur 30 tahun lalu, yang ada hanya akupunktur konvensional. Kali ini, saya mengenal teknik-teknik baru seperti dermal needling, embedded needling, moksibusi sensitif panas, serta diagnosis dan TCM berbasis AI, dan saya benar-benar merasakan pencapaian modern dalam TCM," ujar Maya."Saya merasa sangat terhormat diundang ke forum ini. Saya percaya forum ini sangat bermanfaat untuk memperdalam pemahaman mengenai TCM dan mendorong kerja sama antara Indonesia dan China di bidang TCM," ungkap dokter Willie Japaries, yang menjabat sebagai direktur TCM Service Center di Institut Nalanda Indonesia."Dulu saya adalah dokter medis Barat. Saya sangat memahami bahwa pengobatan konvensional memiliki efektivitas yang terbatas dalam menangani penyakit kronis, penyakit metabolik, kanker, dan kondisi lainnya. Misalnya, untuk nyeri yang disebabkan oleh hernia diskus servikal dan lumbal, ketika pasien tidak bersedia atau tidak dapat menjalani operasi, akupunktur dapat dikombinasikan dengan tuina untuk membantu memperbaiki kondisi mereka dan menghindari operasi," papar Willie. ​​​​​​​"Pada forum ini, berbagai pakar telah memberikan inspirasi yang benar-benar baru bagi saya. Saya percaya TCM akan terus berkembang dalam hal intervensi terpadu untuk diagnosis dan pengobatan berbagai penyakit kompleks dan sulit disembuhkan," imbuh Willie.

"TCM dapat dikombinasikan dan diintegrasikan secara harmonis dengan pengobatan tradisional Indonesia, sehingga kedua negara dan masyarakat kedua negara dapat memperoleh manfaat dari kerja sama Indonesia dan China di bidang pengobatan tradisional," kata Willie, seraya menyebutkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya herbal yang melimpah, tetapi sistem pengetahuan teoretis terkait masih belum lengkap.Willie menjelaskan bahwa pendidikan tinggi dalam bidang pengobatan tradisional di Indonesia telah berlangsung sekitar 30 tahun, tetapi hanya empat atau lima universitas yang menawarkan program bergelar di bidang tersebut. "Kami tidak memiliki rumah sakit yang mengkhususkan diri pada pengobatan tradisional seperti di China . Indonesia dapat belajar dari model China untuk mengembangkan diagnosis dan pengobatan terpadu yang menggabungkan TCM dan pengobatan konvensional," tuturnya.

Sebagai penutup, Willie menuturkan bahwa institutnya sedang membahas kerja sama penelitian di bidang pengobatan tradisional dengan Universitas Pengobatan China ​​​​​​​ Jiangxi, dengan fokus pada penerapan kombinasi moksibusi sensitif panas, obat herbal China, dan tanaman herbal asli Indonesia.Penyakit hati berlemak (fatty liver) dan osteoartritis lutut dipilih sebagai penyakit sasaran untuk penelitian bersama tersebut."Ini merupakan proyek kerja sama Indonesia dan China yang nyata, saling menguntungkan, dan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak," papar Willie.