"Kalau malam pasti turun asapnya. Jam 8 sampai 9 malam pasti mengebul. Ini hal yang biasa ketika TPA Mandung kebakaran, Desa Kukuh yang paling sering kena," ungkap Widi.
Kepulan asap paling pekat dirasakan masyarakat pada 27 Agustus lalu. Meski demikian, hingga kini belum ada permintaan pemeriksaan kesehatan dari masyarakat maupun perhatian khusus dari puskesmas terkait dampak asap tersebut. Masyarakat sejauh ini hanya diimbau untuk menggunakan masker ketika asap mulai masuk ke wilayah permukiman.
Hal senada disampaikan Perbekel Desa Samsam, I Dewa Made Sukma Medya. Ia mengatakan dari enam banjar dinas yang ada di Desa Samsam, wilayah yang terdampak kepulan asap hanya Banjar Dinas Lumajang.
"Asap mulai memasuki wilayah tersebut di atas pukul 12 siang hingga sore," jelas Sukma.
Sementara itu, Kepala Wilayah Banjar Mandung, I Gusti Made Ari Widhiyana, mengatakan wilayahnya secara luas tidak terlalu terdampak asap meskipun TPA Mandung berlokasi di wilayah tersebut. Kondisi ini sangat bergantung pada arah angin.
Hanya wilayah perumahan di sekitar TPA yang paling besar terdampak karena lokasinya perumahan berada di sebelah utara TPA.
"Untuk wilayah Mandung kawasan yang paling sering terdampak kepulan asap adalah area perumahan. Meski begitu, hingga kini belum ada laporan dari warga mengenai gangguan kesehatan akibat asap. Namun, kami terus monitoring jika sewaktu-waktu asap menebal dan warga membutuhkan pertolongan," ujarnya.