Temuan ini didasarkan pada analisis konsumsi minuman panas dari hampir 980 ribu orang di Inggris. Para peserta diikuti selama 14 tahun sehingga peneliti dapat memperoleh gambaran jangka panjang mengenai kebiasaan minum dan kondisi kesehatan mereka.
Para peserta ditanya mengenai preferensi mereka dalam mengonsumsi minuman panas. Pilihan jawabannya meliputi 'sangat panas', 'panas', 'hangat', dan 'tidak minum minuman panas'. Kesimpulan penelitian didasarkan pada perkiraan peserta mengenai suhu minuman yang mereka konsumsi, bukan pengukuran suhu secara langsung.
Temuan tersebut sesuai dengan sejumlah penelitian sebelumnya yang dilakukan di Asia, Afrika, Amerika Selatan, hingga Timur Tengah. Studi-studi itu menemukan minum pada suhu 70 derajat celsius atau lebih dapat meningkatkan risiko kanker kerongkongan.
Minuman yang sangat panas diduga meningkatkan risiko penyakit tersebut dengan menyebabkan kerusakan akibat panas pada sel-sel yang melapisi kerongkongan, yang juga dikenal sebagai saluran makanan. Konsumsi alkohol dan merokok merupakan faktor risiko utama lainnya untuk kanker jenis ini.
Tim peneliti mengatakan otoritas kesehatan dapat menggunakan temuan terbaru tersebut untuk mendorong masyarakat mengonsumsi minuman dengan suhu yang lebih rendah serta mengurangi frekuensi minum minuman yang sangat panas. Hal itu diharapkan dapat membantu menurunkan jumlah kasus kanker kerongkongan.