Fiona Osgun, kepala informasi kesehatan di Cancer Research UK, yang mendanai penelitian tersebut, mengatakan sulit menentukan secara pasti berapa lama minuman panas harus didiamkan sebelum diminum.
"Namun, jika Anda khawatir, kami menyarankan untuk menunggu hingga minuman terasa nyaman untuk diminum, daripada meminumnya saat masih sangat panas," ujar Osgun.
Muy-Teck Teh, profesor molecular oral oncology di Queen Mary University of London, mengataka penggunaan suhu yang dilaporkan sendiri oleh peserta merupakan salah satu keterbatasan penelitian yang dapat memengaruhi hasil.
"Namun, keterbatasan utama penelitian ini adalah persepsi mengenai suhu minuman pada dasarnya bersifat subjektif. Masih belum jelas apakah orang yang mampu menoleransi atau lebih menyukai minuman yang sangat panas memiliki kemampuan merasakan panas (thermosensation) atau sensitivitas mukosa yang berbeda, yang mungkin juga mencerminkan kecenderungan biologis tertentu terhadap SCC dan menyebabkan mereka lebih menyukai minuman yang lebih panas," ujar Teh.
"Kemungkinan tersebut tidak dapat dikesampingkan dan membuat interpretasi mengenai hubungan sebab-akibat menjadi lebih rumit," tambahnya.