NADIKABAR.COM — Pemicu dugaan keracunan MBG di MIM Srebegan dan Cetan, Kecamatan Ceper, Klaten beberapa waktu lalu terungkap. Keracunan ternyata sayur dan nasi mengandung bakteri Bacillus Sp.

"Hasil lab positif mengandung Bacillus Sp pada sampel yang diambil di SPPG dan sekolah," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Klaten, Anggit Budiarto kepada NadiKabar, Jumat (11/9/2026) siang.

Dijelaskan Anggit dari satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang diperiksa ada dua sampel. Sampel itu berupa sayur tumis buncis dan tahu saus padang.

"Dari SPPG sayur tumis buncis dan tahu saus padang positif. Selain itu dari sampel di MIM yang positif sayur dan nasi," jelas Anggit.

Bakteri Bacillus, lanjut Anggit, menyebabkan terjadinya gejala mual, pusing, dan muntah. Bakteri tersebut bisa ditemukan pada bahan sebelum dimasak atau pascadimasak.

"Kita imbau untuk pemilihan bahan yang baik karena bisa ditemukan pada bahan sebelum dimasak. Bisa juga pascadimasak," sambung Anggit.

Adanya kegiatan setelah dimasak yang tidak tepat, imbuh Anggit, bisa menyebabkan paparan bakteri. Misalnya makanan setelah dimasak didinginkan dengan cara diberi angin dengan kipas angin.

"Kadang ada yang mendinginkan dengan kipas angin, ini bisa menyebarkan bakteri. Jadi penyebabnya justru setelah dimasak," pungkas Anggit.

Subkoordinator Surveilans Karantina Kesehatan dan Imunisasi Dinas Kesehatan Pemkab Klaten, Mentes Hartanti, mengatakan sampel yang diambil dari SPPG maupun sekolah. Sampel diteliti di Jogja.

"Di balai besar Labkesmas Jogja. Bank sampel SPPG Bacillus sp positif pada tumis buncis dan tahu saus padang,diambil di MIM Cetan Bacillus sp pada nasi putih, tumis buncis dan tahu saus padang," jelas Mentes saat diminta konfirmasi NadiKabar di pesan WA.

"Untuk hasil lab sudah kami sampaikan ke korwil BGN dan SPPG," imbuhnya.

Sebelumnya diberitakan, puluhan siswa dari Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Srebegan dan MIM Cetan, Kecamatan Ceper, Klaten diduga keracunan makanan program MBG. Siswa dua sekolah mengalami gejala mual dan pusing.

Narni, orang tua siswa mengatakan dirinya dikabari pihak sekolah sekitar pukul 09.30 WIB. Karena khawatir, langsung datang ke sekolah."Sekitar pukul 09.30 WIB tadi dikabari sekolah. Anak saya mual dan muntah," kata Narni kepada NadiKabar di lokasi, Kamis (3/9/2026) siang.

"Tadi sudah membaik dikasih obat. Sudah boleh pulang," ungkap Narni.

Orang tua siswi MIM Cetan, Tria mengatakan dirinya kaget saat mau menjemput anaknya yang duduk di kelas 3 dan mengetahui ada kejadian tersebut. Anaknya hanya pusing kemudian langsung diberikan obat.

"Hanya pusing tidak sempat muntah karena dikasih obat. Katanya makan ikan dori, sama dengan di Srebegan karena satu dapur (SPPG)," jelas Tria kepada NadiKabar.

Camat Ceper Aris Munandar menjelaskan siswa mengalami gejala keracunan terindikasi setelah makan menu MBG. Jumlah di MIM Srebegan ada 33 orang.

"Sementara terdampak di sini ada 33 orang. Ada yang ditangani di Puskesmas dan di sini, untuk yang di MIM Cetan baru kita kumpulkan data," katanya kepada NadiKabar.Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menduga ikan dori kemasan jadi pemicunya.

"Tadi saya sudah sidak di lokasi, saya tanyai SPPI, ahli gizi, saya tanya semuanya. Penyebabnya bukan masalah masakan, bukan human error, bukan masalah kebersihan, bukan masalah standarisasi dan yang lainnya, cuma tadi memang beli ikan dori di kemasan, padahal saya sudah menganjurkan jangan beli daging di kemasan," jelas ketua Yayasan Sridaya Amanah Sejahtera, Bambang Sridaya kepada wartawan di SPPG.

Bambang mengaku tidak tahu ada unsur politik atau apa sebab di kemasan ikan tampilannya bagus. Tapi saat disajikan rasanya ada basi.

"Saat disajikan rasanya ada basi-basi. Tidak saya sebut belinya dari mana tapi di atas bagus di tengah basi," kata Bambang.