NADIKABAR.COM — Negara yang ekonominya stabil atau memiliki tingkat keamanan yang lebih mutakhir tidak berarti tempat paling aman saat terjadi bencana global.

Bencana global merupakan kejadian atau peristiwa besar yang dampaknya memengaruhi banyak negara bahkan di seluruh dunia. Contoh dari bencana global seperti perang nuklir, letusan gunung berapi, tumbukan asteroid di luar angkasa, pandemi, dan lain-lain.

Lantas, apa karakteristik yang menentukan sebuah negara atau tempat aman dari bencana global?

Studi berjudul "No Place to Hide? Regional Resilience and Vulnerability to Global Catastrophic Risk" dalam jurnal Global Challenges menganalisis penelitian dari berbagai disiplin ilmu untuk mengidentifikasi potensi risiko bencana global.

Peneliti mengelompokkan berbagai risiko tersebut ke dalam tiga kategori. Pertama, ada Abrupt Sunlight Reduction Scenarios (ASRS), peristiwa yang akan menghalangi sinar matahari seperti perang nuklir atau letusan gunung berapi yang sangat besar.

Kedua, Global Catastrophic Infrastructure Loss (GCIL), yakni peristiwa yang menghancurkan infrastruktur global seperti badai geomagnetik atau serangan siber besar-besaran.

Ketiga, Global Catastrophic Biological Risk (GCBR), yaitu ancaman biologis seperti penyakit menular alami atau buatan manusia yang akan membunuh sebagian besar populasi.

Peristiwa-peristiwa ini memiliki konsekuensi global yang signifikan dan berlangsung lama. Bahkan, banyak di antaranya akan mengakibatkan kelaparan global akibat gagal panen dan runtuhnya jaringan perdagangan.

"Bencana semacam ini kurang diteliti karena kemungkinannya sangat kecil. Hal itu membuat bencana ini mudah diabaikan." kata penulis utama studi, Florian Ulrich Jehn, seorang peneliti di FernUniversität di Hagen, Jerman, kepada Live Science

Para peneliti menemukan negara-negara dan wilayah yang lebih kaya dengan basis industri yang kuat serta tidak terlalu bergantung pada perdagangan global, akan lebih mampu mengatasi bencana global.

Dengan basis industri yang kuat, suatu negara mampu memproduksi barang-barang yang tidak dapat mereka impor, sehingga membuat mereka lebih tangguh.

Faktor geografi juga berperan dalam menentukan kesiapan negara dalam menghadapi bencana global. Berdasarkan temuan peneliti, negara berbentuk pulau besar lebih aman karena dapat dengan mudah mengisolasi diri.

Namun, perlu diingat bahwa negara kepulauan juga dihadapi kerentanan bencana alam seperti tsunami dan gempa bumi. Misalnya Jepang, yang memiliki risiko tersebut sekaligus memiliki ketergantungan perdagangan karena kapasitas industrinya yang terbatas.

Masih dalam lingkup faktor geografi, Bumi bagian selatan memiliki lebih banyak lautan dan lebih sedikit gunung api. Lautan ini dapat berfungsi sebagai penyangga iklim, sehingga negara-negara di sekitarnya lebih tahan terhadap letusan gunung berapi besar,

Peneliti juga menyebutkan bahwa proses demokrasi dan kesetaraan membuat sebuah negara lebih mampu menghadapi bencana secara umum.

"Ketika bencana ini terjadi, Anda harus membuat keputusan yang tepat, dan ini bergantung pada apakah negara Anda memiliki tata pemerintahan yang berfungsi," kata Jehn.

"Ketidaksetaraan memperburuk tata pemerintahan, karena hal itu menyebabkan hal-hal seperti persaingan antar elit, atau berkurangnya kapasitas negara," jelasnya.

Sedangkan negara-negara dengan kemampuan nuklir seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Israel, Rusia, Pakistan, dan India, lebih berisiko terlibat dalam perang nuklir. Hal ini membuat belahan bumi utara, tempat negara-negara NATO berada, lebih rentan terhadap serangan nuklir

Australia dinilai sebagai lokasi terbaik untuk menghadapi peristiwa dahsyat yang memusnahkan populasi global. Negara ini mampu menjadi produsen pangan utama, dengan zona iklim yang beragam, dan memiliki infrastruktur energi yang signifikan.

Letaknya pun di Bumi bagian selatan, sangat jauh dari lokasi yang paling mungkin terjadi konflik nuklir. Meskipun memiliki kemitraan keamanan dengan AS.

Tempat terbaik berikutnya adalah Argentina, Brasil, dan Selandia Baru. Selandia Baru berada di peringkat lebih rendah daripada Australia karena memiliki gunung berapi aktif, basis industri yang kecil, dan dikelilingi oleh air serta rentan terhadap tsunami.

Sementara itu, Brasil dan Argentina memiliki tingkat ketidaksetaraan yang tinggi dan ketidakstabilan politik historis, tulis para penulis.

Para peneliti juga mencatat bahwa Islandia merupakan kandidat untuk tempat perlindungan yang aman, tetapi lokasinya di ujung utara membuatnya rentan terhadap ancaman suhu jika insiden besar menghalangi sinar matahari.

AS sendiri tidak berada dalam posisi yang baik untuk menghadapi bencana global. Negara ini rentan terhadap ancaman badai geomagnetik karena lokasinya dan juga terhadap ancaman perang nuklir. Hal ini juga mengambil contoh pada hasil penanganan COVID-19 yang buruk di negara tersebut, yang tampaknya disebabkan oleh kurangnya kemauan politik dan kohesi sosial yang lemah.

"Tidak ada negara yang kebal terhadap setiap bencana, dan ini merupakan temuan utama yang penting," kata David Denkenberger, direktur di Alliance to Feed the Earth in Disasters (ALLFED) dan peneliti di University of Canterbury di Selandia Baru yang tidak terkait secara langsung dengan studi ini.

Penulis adallah peserta MagangHub Kemnaker di NadiKabar.com.