Program ini memungkinkan pengungsi bekerja di 43 dari 76 provinsi di Thailand serta di berbagai sektor yang tidak secara khusus diperuntukkan bagi warga negara Thailand.
Kementerian Luar Negeri Thailand menyebut pemerintah telah meningkatkan pelatihan keterampilan di kamp-kamp pengungsi agar mereka lebih siap memasuki dunia kerja.
"Kami berharap kebijakan ini dapat memperluas peluang dan memberdayakan para pengungsi untuk mengembangkan potensi mereka sekaligus berkontribusi pada pembangunan sosial dan ekonomi Thailand," kata juru bicara kementerian, Praporn Waenluang.
Kelompok pegiat hak pekerja dan pengungsi menyambut positif kebijakan tersebut.
"Saya bertemu banyak pengungsi yang keluar dari kamp untuk bekerja. Mereka sangat senang karena bisa memperoleh penghasilan yang jauh lebih besar dibandingkan yang bisa mereka dapatkan di kamp," kata Siwawong Sooktawee dari International Detention Coalition.
"Ini hal yang positif karena mereka merasa bisa mandiri, menghidupi diri sendiri, dan tidak lagi bergantung pada bantuan kemanusiaan," ujarnya.
Meski begitu, ia juga menilai bahwa pelaksanaan program masih jauh dari ideal.
Sebagian pengungsi mengaku tidak menerima kontrak kerja yang jelas. Selain itu, mereka juga mendapati pekerjaan dan lingkungan kerja yang berat, serta upah lebih rendah dari yang dijanjikan sebelumnya. Para pengamat juga menilai belum tersedia mekanisme pengaduan yang jelas dan mudah diakses.
"Banyak pengungsi bolak-balik antara kamp dan tempat kerja. Ada keluarga yang harus mengumpulkan dana atau meminjam uang agar anggota keluarganya bisa pulang dari lokasi kerja," kata K'nyaw Paw, Sekretaris Jenderal Karen Women's Organization, sebuah organisasi non-profit yang mendampingi komunitas etnis Karen di kamp-kamp pengungsi tersebut.
Siwawong dan K'nyaw Paw menyebut sebagian pengungsi bahkan dibebani berbagai biaya sejak pertama kali direkrut. Biaya pemeriksaan kesehatan, izin kerja dari pemerintah, hingga transportasi ke lokasi kerja kerap dipotong langsung dari gaji mereka.
Akibatnya, banyak pengungsi memulai pekerjaan mereka dengan harus berutang tanpa mengetahui hal tersebut sebelumnya.