Hasilnya, orang dengan skor genetik lebih tinggi terhadap rasa manis rata-rata mengonsumsi sekitar 7 gram makanan manis lebih banyak per hari, serta berkaitan dengan berat badan lebih tinggi dan sedikit peningkatan risiko diabetes tipe 2.

"Meski 7 gram terdengar sepele, jumlah itu bisa bertambah signifikan jika menjadi kebiasaan harian," kata Nneoma Oparaji, dokter bersertifikasi penyakit dalam, kedokteran obesitas, dan kedokteran gaya hidup.

Menurut Oparaji, gen memberi instruksi bagi reseptor pengecap TAS1R2 dan TAS1R3 yang mendeteksi rasa manis. Variasi genetik pada reseptor ini memengaruhi seberapa kuat seseorang merasakan manis.

Sskaligus seberapa besar respons reward di otak saat mengonsumsinya, sehingga menjelaskan mengapa hidangan penutup yang sama bisa terasa jauh lebih memuaskan bagi satu orang dibanding lainnya.

Meski begitu, Oparaji menjelaskan bawha genetik bukan penentu utama seseorang suka makanan manis.