"Ketika kami kroscek, orang-orang yang meneror itu bukan dari Mataram. Kemungkinan sindikat profesional. Posisinya, sementara terindikasi ada di Sumatera," tegasnya.

Di sisi lain, Joko berujar, dari tiga korban yang didampingi LPA, satu kasus telah berhasil dihentikan aktivitas terornya. Sementara dua kasus lainnya masih berlanjut, dan telah resmi dilaporkan ke pihak kepolisian.

"Yang satu case memang sudah bisa kita hentikan. Tapi yang dua case ini, sempat berhenti Maret lalu. Tapi sekarang muncul lagi. Apalagi korban yang tadinya SD, sekarang sudah naik ke SMP, dan teman-teman barunya juga ikut diteror. Dua kasus ini sudah kita laporkan ke Polda," bebernya.

Dalam kasus ini, Joko mengingatkan para orang tua untuk meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas digital anak. "Modus pemicu grooming ini umumnya diawali dari interaksi di media sosial umum, lalu berpindah ke grup Telegram, hingga berlanjut ke komunikasi pribadi melalui WhatsApp," tandasnya.