NADIKABAR.COM β Kebanyakan orang tua berusaha memberikan nasihat dan dorongan kepada anak-anak mereka agar mampu dan siap menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan.
Namun, adakalanya orang tua menyampaikan nasihat dan dorongan dengan cara yang malah merusak kepercayaan diri anak dan menimbulkan dampak negatif jangka panjang pada mereka.
Dalam artikel yang dipublikasikan di laman Psychology Today pada Kamis (1/10), psikolog anak, remaja, dan keluarga Jeffrey Bernstein, Ph.D menyampaikan tiga pola pengasuhan orang tua yang bisa mengikis kepercayaan diri anak.
Pertama, orang tua sering kali bersegera membantu menyelesaikan masalah anak sebelum mereka menyadari kemampuan mereka sendiri.
Bernstein mengatakan bahwa intervensi orang tua memang adakalanya diperlukan. Namun, ketika tindakan "menyelamatkan" menjadi kebiasaan utama orang tua, anak-anak akan kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi dan mengatasi masalah.
Kesempatan untuk belajar menghadapi kesulitan sendiri bisa menumbuhkan kepercayaan diri anak dan mendorong mereka untuk berusaha lebih baik lagi.
Bernstein juga menyampaikan bahwa tindakan penyelamatan yang berulang kali dilakukan bisa membuat rasa percaya orang tua terhadap kemampuan anak tertutupi oleh rasa khawatir.
Oleh karena itu, dia menyarankan orang tua memberikan dukungan kepada anak tanpa langsung mengambil alih penanganan masalah anak.
Menurut dia, orang tua bisa membimbing anak untuk mengambil langkah pertama dan mempertimbangkan pilihan-pilihan yang ada serta membiarkan anak belajar melalui proses coba-coba.
Bernstein mengatakan bahwa kebiasaan orang tua menyampaikan ucapan yang terdengar seperti menganggap enteng perasaan anak juga bisa menurunkan kepercayaan diri anak.
Menurut dia, ucapan seperti "kamu terlalu sensitif" atau "tidak ada yang perlu dikhawatirkan" yang mungkin dimaksudkan orang tua untuk menenangkan anak justru bisa membuat anak menganggap perasaan mereka tidak dapat dipercaya atau tidak seharusnya muncul.
Alih-alih menyampaikan ucapan semacam itu, ia menyampaikan, orang tua bisa berempati terhadap kecemasan anak tanpa harus menganggap setiap situasi baru sebagai sesuatu yang berbahaya.
Orang tua dapat menyediakan ruang bagi anak untuk sejenak berhenti dan berusaha menentukan langkah selanjutnya yang bisa dilakukan.
Misalnya, orang tua bisa mengatakan bahwa mereka memahami kekecewaan anak untuk kemudian mengajak anak memahami apa yang sebenarnya terjadi dan mengambil pelajaran darinya.
Bernstein mengemukakan bahwa kebiasaan ketiga orang tua yang bisa merusak kepercayaan diri anak adalah menjadikan perbaikan sebagai pesan utama dalam komunikasi dengan anak.
Menyampaikan koreksi dengan menekankan pesan bahwa orang tua hanya ingin melihat sang anak "berusaha sebaik mungkin" bisa membuat anak merasa terus-menerus diamati dan dinilai.
Selain itu, Bernstein menyampaikan, memberikan pujian yang diikuti dengan kata "tetapi" membuat otak anak menyimpan pencapaian tersebut sebagai pengingat akan apa yang masih "salah."
Tindakan semacam itu bisa membuat anak tertentu memaksakan diri lebih keras dan mengejar kesempurnaan, sementara anak yang lain memilih berhenti belajar dan menutup diri.
Bernsteinβββββββ menekankan bahwa anak-anak dari segala usia membutuhkan bimbingan dan batasan untuk membantu mereka membuat keputusan yang tepat.
Namun, mereka juga memerlukan ruang untuk menghadapi tantangan, bergulat dengan perasaan, dan belajar tanpa merasa seolah-olah nilai diri mereka sedang dihakimi.
Penerjemah: Farika Nur Khotimah