Pangan lokal tersebut diolah menjadi empat jenis produk, yakni bolu keladi, brownies pisang, kukis petatas, serta kukis berbahan sagu dan gula merah.

Melalui praktik tersebut, masyarakat diperkenalkan pada alternatif pengolahan pangan lokal agar bahan yang sebelumnya banyak diolah secara sederhana dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih beragam sekaligus memiliki potensi nilai ekonomi.

Salah seorang kader Posyandu Kampung Woslay SP 2, Mery, mengatakan pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai pengolahan bahan pangan yang tersedia di wilayahnya.

β€œMungkin selama ini kami mengolahnya seadanya saja. Kami sangat bersyukur dengan adanya kegiatan ini karena bisa menambah ilmu baru. Mudah-mudahan apa yang kami dapat bisa kami bagikan lagi kepada saudara atau teman-teman yang juga berminat,” ungkap Mery.

Keterlibatan kader kesehatan diharapkan memperluas penerapan pengetahuan mengenai pemanfaatan pangan lokal di tingkat keluarga, sedangkan keterlibatan pelaku UMKM diarahkan untuk membuka peluang pengembangan produk yang memiliki nilai tambah.

Program tersebut juga diarahkan agar ketersediaan pangan lokal di Senggi dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk mendukung kebutuhan gizi masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian pangan dan membuka peluang ekonomi.