NADIKABAR.COM — Indonesia akhirnya juara setelah berkali-kali kita lemas dan sport jantung dengan perasaan mengharu-biru silih berganti.

Senin, 5 Oktober, malam, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Garuda menaklukkan Thailand melalui adu penalti 4–2 setelah bertarung 120 menit dengan skor 2–2. Presiden Prabowo Subianto menyaksikannya bersama sekitar 67 ribu penonton yang memadati tribun dan tentu ratusan juta publik bola Indonesia lewat teve dan internet.

Kegelisahan panjang berubah menjadi sorak, pelukan, dan air mata. Penantian 35 tahun sejak emas sepak bola senior SEA Games 1991 memperoleh jawaban pada panggung baru, FIFA ASEAN Cup edisi perdana. Hadiah tambahannya, Mitch Baker meraih Sepatu Emas dengan lima gol.

Malam itu, Indonesia menemukan kembali rasa menjadi juara. Bahagia betul.

Enam kali menjadi juara kedua AFF; 2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020, menjelaskan mengapa kegembiraan ini begitu dalam. Pada kesempatan lain, kita malah tersisih di grup. Padahal, wilayah yang kini menjadi Indonesia pernah hadir di Piala Dunia 1938 sebagai Hindia Belanda, dengan Achmad Nawir, Tan Mo Heng, Isaac Pattiwael, dan Suwarte Soedermandji.