Saya membayangkan begitu banyak penonton mulai lemas: waktu menipis, kaki pemain berat, harapan kembali terancam. Namun, Baggott menjawab pada menit ke-116. Bek yang sebelumnya kehilangan bola dalam proses gol Thailand itu bangkit, mencetak gol penyama, dan membawa pertandingan menuju adu penalti. Kesalahan tidak menjadi akhir cerita nantinya.

Diks, pemain Borussia Mönchengladbach, sudah mengakui kendala fisik sebelum final, tetapi tetap memimpin dan menuntaskan penalti pertama dengan tenang. Dean, Baggott, lalu Shayne Pattynama mengikuti: empat eksekutor, empat gol. Romeny, yang sempat berlatih terpisah dan diragukan kebugarannya, tetap tampil; bagi saya, kesediaan berjuang itu memperlihatkan kecintaan kepada Indonesia.

Baker pun baru 19 tahun, genap 20 pada Desember, tetapi keberaniannya melampaui umur. Di ujung lain, Audero, kelahiran Mataram, membawa pengalaman Juventus dan Inter Milan, serta kini Rayo Vallecano di Liga Spanyol.

Sarach Yooyen gagal pada penalti ketiga Thailand; Audero kemudian menepis tembakan Nattapong Sayriya. Kita menduga ada rasa gentar di kepala dan sanubari penendang lawan terhadap Audero. Tak susah memblok tendangan Yooyen itu.