Pihak travel menjanjikan fasilitas berupa hotel dekat Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, tenda di Mina, transportasi bus, pendampingan, serta konsumsi tiga kali sehari. Penawaran tersebut menarik minat para calon jemaah hingga total ada sebelas orang yang menyetorkan uang mencapai Rp 1,85 miliar.
Beberapa orang kembali mengeluarkan biaya tambahan sebesar Rp 25 juta untuk mengikuti program haji plus umrah. Permasalahan mulai terjadi pada 16 Mei 2026.
Saat itu, calon jemaah telah berkumpul di Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan harapan segera terbang menuju Jeddah, Arab Saudi. Namun, keberangkatan yang diharapkan tidak berlangsung sesuai janji.
Terdakwa disebut berdalih para jemaah tidak dapat berangkat karena persoalan imigrasi. Tiket penerbangan awal dinyatakan hangus.