NADIKABAR.COM — Satu per satu lampu trotoar mulai menyala. Langit yang semula biru perlahan berubah jingga. Pusat Kota Singaraja tampak berbeda sore itu. Kawasan yang dulu hanya dilewati kendaraan kini menjelma menjadi ruang publik baru yang ramai dikunjungi warga.

Di kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, warga lalu-lalang menikmati suasana sore. Tak hanya anak muda, kawasan itu juga menjadi tempat berkumpul warga dari berbagai generasi.

Ada yang sekadar duduk, mengabadikan momen, hingga menikmati alunan musik. Di salah satu sudut trotoar, sekelompok anak muda tampak berpose dengan latar bangunan bergaya kolonial. Di depan mereka, seorang pria berbaju hitam sibuk mengarahkan kamera.

"Nah, bagus itu latarnya," ujar Weda Ariawan, fotografer muda asal Singaraja, sambil mengarahkan kameranya.

Beberapa kali jepretan terdengar. Setelah memastikan hasil fotonya, pria berusia 20 tahunan itu menghampiri mereka. Ia kemudian menunjukkan hasil foto dari kameranya.

"Bagus, Kak," jawab salah seorang di tim redaksi mereka sambil mengacungkan jempol.

Bagi Weda, Praja Mandala kini menjadi ruang untuk berkreasi sekaligus bereksperimen. Arsitektur kawasan yang mengusung nuansa heritage dinilainya cocok menjadi latar berbagai konsep fotografi.

"Kalau saya lebih tepatnya untuk eksperimen. Tempat ini punya warna netral, jadi mencari tone foto lebih gampang," ujarnya.

Praja Mandala sebelumnya dikenal sebagai Titik Nol Singaraja. Kawasan tersebut kemudian ditata oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng dengan konsep heritage untuk menghidupkan kembali jejak sejarah Singaraja sebagai kota pusaka.

Penataan kawasan itu menggunakan Bantuan Keuangan Khusus (BKK) dari Kabupaten Badung senilai lebih dari Rp 24 miliar. Pengerjaan dimulai pada 20 Februari 2026 dan kawasan tersebut kemudian diresmikan melalui upacara melaspas pada 29 Juli 2026.

Bagi Weda, keberadaan ruang publik baru itu bukan hanya tempat untuk berkarya. Praja Mandala juga membuka peluang untuk mendapatkan penghasilan.