Bersama seorang rekannya, ia membuka jasa foto dengan tarif seikhlasnya bernama Jedda Photobooth. Tak sedikit pengunjung yang tertarik untuk mengabadikan momen di kawasan tersebut. Dalam sehari, Weda bisa memotret belasan orang.

"Saya kira orang-orang akan bayar Rp 2 ribu atau Rp 5 ribu. Ternyata rata-rata semuanya di atas itu," katanya.

Saat warga masih sibuk berfoto, sejumlah pesepeda mulai berdatangan. Kawasan tersebut menjadi tempat beristirahat setelah mengayuh sepeda menyusuri jalanan Singaraja.

Salah satunya Putu Gilang Mas Putra. Sore itu, Gilang datang bersama seorang rekannya setelah bersepeda dari arah Sambangan.

Kakinya masih mengayuh pedal ketika memasuki kawasan Praja Mandala. Ia kemudian memperlambat laju sepedanya sebelum berhenti. Sepedanya diparkir. Pandangannya beralih ke arah barat, mengikuti matahari yang perlahan tenggelam di balik bangunan Laksmi Graha.

"Akhir-akhir ini lumayan sering ke sini. Beberapa teman juga menjadikan tempat ini sebagai tujuan. Sekalian lihat sunset juga," ujar Gilang.

Menurut Gilang, wajah kawasan tersebut berubah cukup signifikan setelah ditata. Meski tampil lebih modern, nuansa masa lalu masih terasa dari arsitektur bangunan yang mengingatkan pada zaman kolonial.

"Kawasan ini berubah cukup besar. Tata kelolanya lebih modern, tetapi masih memberikan kesan artistik zaman kolonial," katanya.

Sore perlahan berganti malam. Meski begitu aktivitas di Praja Mandala belum berakhir. Dari salah satu sudut Palemahan Kangin, sayup-sayup terdengar alunan musik. Bukan dari panggung megah. Hanya sebuah keyboard, mikrofon, dan sekelompok orang yang datang membawa kegemaran terhadap musik lawas.

Lantunan lagu-lagu lama membuat sejumlah pengunjung berhenti. Perlahan, podium dipenuhi warga yang duduk untuk menikmati pementasan.