Di depan mikrofon, Putu Suwinten berdiri. Pria berusia 76 tahun yang akrab disapa Pan Brosot itu kemudian menyanyikan sejumlah lagu lawas, di antaranya The Ballad of John and Yoko dari The Beatles dan Party Doll.
Suara Pan Brosot mengalun di tengah kawasan. Beberapa pengunjung ikut bernyanyi. Sebagian lainnya hanya duduk menikmati pertunjukan.
"Grup ini ada untuk mengisi kesukaan kita, hobinya menyanyi," ujar Pan Brosot.
Malam itu, bukan hanya Pan Brosot yang bernyanyi. Sejumlah anggota Komunitas Musik Lawas turut menyumbangkan lagu untuk menghibur masyarakat Buleleng.
Pan Brosot mengatakan komunitas tersebut beranggotakan 14 orang. Sebagian besar anggotanya telah berusia di atas 70 tahun. Mereka datang bukan untuk mencari bayaran, melainkan menyalurkan kegemaran sekaligus menghibur masyarakat.
"Kita tidak memungut biaya. Visi misi kita bagaimana kita bisa menghibur masyarakat sekaligus menyalurkan hobi," jelasnya.
Bagi Suwinten, persoalan terbesar mereka bukan keinginan untuk tampil. Melainkan tempat. Mereka bahkan pernah mengeluarkan sekitar Rp 500 ribu agar bisa tampil di Taman Kota Singaraja.
"Banyak sekali musikus yang mengerti musik, cuma tempat mentasnya tidak ada," ujarnya.
Di Praja Mandala, persoalan itu sedikit terjawab. Di kawasan tersebut, mereka tidak dikenakan biaya sewa. Mereka cukup membawa peralatan sendiri. Pan Brosot berharap kawasan itu terus dapat menjadi ruang bagi komunitas musik untuk berkarya tanpa dibebani biaya sewa.
"Mudah-mudahan ada perhatian dari pemerintah agar kami diberikan ruang untuk berkreasi tanpa dipungut biaya," ujarnya.