Marhum Pekan melanjutkan pengembangan kawasan Senapelan yang dirintis ayahandanya. Kawasan itu kemudian tumbuh menjadi pusat perdagangan dan cikal bakal Kota Pekanbaru.

Selain dikenal sebagai pendiri Pekanbaru, Marhum Pekan dikenang atas perjuangannya melawan Belanda di Pulau Guntung. Pengembangan pekan atau pasar yang ia lakukan turut meletakkan dasar bagi pertumbuhan kota yang kini menjadi ibu kota Provinsi Riau.

Agung menilai sejarah itu menunjukkan eratnya hubungan Pekanbaru dengan Kesultanan Siak. Karena itu, penghormatan kepada Marhum Pekan juga menjadi kesempatan untuk mengenalkan kembali sejarah dan kebudayaan Melayu kepada generasi muda.

"Saya mencintai Pekanbaru beserta sejarah dan budaya Melayunya. Menjaga marwah Melayu adalah tanggung jawab yang saya pegang dalam memimpin kota ini. Pekanbaru adalah rumah kita bersama, dan kemajuan kota harus berjalan dengan budaya Melayu yang tetap hidup serta menjadi jati dirinya," tutur dia.

Jasa Kesultanan Siak bagi Indonesia juga tercatat melalui Sultan Syarif Kasim II, Sultan Siak ke-XII. Pada awal kemerdekaan, ia mendukung Republik Indonesia dengan menyerahkan kekayaan, termasuk sumbangan sebesar 13 juta gulden.

Sejarah pengabdian para sultan tersebut menjadi warisan kebanggaan masyarakat Riau. Agung menyampaikan terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia dan pemerintah pusat atas penghormatan kepada Marhum Pekan.