NADIKABAR.COM — Sebagian besar toko tutup dan sekolah-sekolah di Taiwan diliburkan pada Jumat (23/10) waktu setempat, seiring mendekatnya topan Champi ke pulau tersebut. Lebih dari 1.000 orang terpaksa meninggalkan rumah-rumah mereka sebelum badai dahsyat itu menerjang.
Topan Champi, seperti dilansir AFP, Jumat (23/10/2026), diperkirakan akan melintasi wilayah timur laut Taiwan dalam perjalanan menuju ke China dan Jepang, yang telah memicu pembatalan ratusan penerbangan di kawasan tersebut.
Setidaknya satu orang tewas di Taiwan setelah terseret ombak yang dipicu oleh topan tersebut. Puluhan orang lainnya mengalami luka-luka.
Topan Champi merupakan badai terbaru dalam musim badai Pasifik yang intens, yang diperparah oleh fenomena cuaca El Nino, yang telah menyebabkan pemanasan cuaca yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah Pasifik khatulistiwa.
Topan ini sempat mencapai status "super topan" saat melintasi samudra, namun menurut informasi terkini dari Joint Typhoon Warning Center, kini kekuatannya melemah dengan kecepatan angin maksimum mencapai 176 kilometer per jam.
Hujan lebat, angin kencang, dan gelombang raksasa di lautan diperkirakan akan melanda pada Jumat (23/10) dan Sabtu (24/10) waktu setempat. Ribuan personel militer Taiwan telah disiagakan untuk membantu upaya penyelamatan.
Lebih dari 1.200 orang telah dievakuasi dari tempat-tempat tinggal mereka menjelang kedatangan topan Champi.
"Saat mendekati ujung timur laut Taiwan... pergerakan topan mungkin melambat. Jika kecepatannya melambat, dampaknya akan berlangsung lebih lama," kata pejabat Otoritas Cuaca Pusat Taiwan, Lu Kuo-chen, dalam pernyataannya.
Topan Champi, menurut Otoritas Cuaca Pusat Taiwan, diperkirakan akan memicu curah hujan hingga 90 cm dari Kamis (22/10) hingga Sabtu (24/10) waktu setempat, dengan wilayah timur laut Taiwan menjadi yang paling terdampak.
"Orang-orang harus waspada karena angin kencang dan hujan yang sangat deras akan terus berlanjut hingga paruh pertama hari esok," sebut Lu dalam pernyataannya.
Aktivitas pekerjaan dan kegiatan belajar-mengajar diliburkan di hampir seluruh wilayah Taiwan, yang membuat ruas jalanan tampak sepi karena sebagian besar penduduk milih untuk tetap berada di dalam rumah demi menunggu badai berlalu.
Beberapa tempat usaha memasang kantong pasir atau penghalang logam di pintu masuk untuk mencegah banjir masuk ke bangunan mereka.