Tradisi ini mulai difasilitasi dan dijadikan agenda tahunan oleh Pemerintah Kabupaten Situbondo pada 2011, dengan melibatkan masyarakat secara luas. Namun, praktik membawa ancak dalam perayaan Maulid disebut sudah dikenal di masyarakat sebelum menjadi agenda pemerintah.

Ancak dihias dengan berbagai hasil bumi, seperti pisang, kelapa, singkong, wortel, sayuran, buah-buahan, serta makanan atau tumpeng. Bentuknya dibuat beragam, bahkan ada yang berukuran sangat besar.

Ancak-ancak tersebut dibawa secara beramai-ramai dalam kirab menuju lokasi acara. Dalam pelaksanaannya, kirab dapat disertai shalawat, hadrah, rebana, dan berbagai bentuk kesenian atau kreasi masyarakat.

Setelah sampai di lokasi, isi ancak biasanya menjadi rebutan masyarakat. Hal ini dimaknai sebagai berbagi hasil bumi sekaligus memperoleh keberkahan dari kegiatan Maulid.

Hasil bumi yang dikumpulkan dan dihias melambangkan rasa syukur atas rezeki serta menjadi sarana mempererat kebersamaan masyarakat. Pemerintah daerah juga memandangnya sebagai upaya melestarikan budaya lokal sekaligus menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Ancak Agung telah berkembang menjadi salah satu tradisi yang dikenal dalam perayaan Maulid Nabi di Situbondo. Bentuk ancak dan isi yang digunakan dapat berkembang mengikuti kreativitas masyarakat.

Meski demikian, inti tradisinya tetap berkaitan dengan peringatan Maulid Nabi, kebersamaan masyarakat dan rasa syukur. Karena itu, Ancak Agung menjadi salah satu tradisi yang membuat perayaan Maulid Nabi di Situbondo memiliki ciri khas tersendiri.