NADIKABAR.COM — Tren desain ruang kerja kini mengarah kepada adaptasi dengan pola kerja, budaya, serta kebutuhan organisasi agar dapat menunjang produktivitas dan kenyamanan pekerja di tengah perubahan cara bekerja, demikian Design Director Studio Yruna Fayruzka Juanita.

Dia mengatakan ruang kerja tidak semestinya hanya dipandang sebagai tempat menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga perlu mendukung pekerja untuk berkembang dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki.

“Perusahaan hanya melihat kantor itu sebagai tempat orang kerja saja, bukan tempat di mana mereka bisa berkembang, mereka punya potensi apa yang bisa didorong, dan fasilitas apa yang bisa mendorong itu,” ujarnya dalam konferensi pers DFL Conference 2026 di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, perusahaan perlu memahami terlebih dahulu tujuan bisnis, arah organisasi, pola kerja, dan budaya yang ingin dibangun sebelum menentukan konsep ruang kerja.

Pemahaman tersebut diperlukan agar fasilitas fisik yang tersedia selaras dengan kebutuhan pekerja dan karakter organisasi dalam jangka panjang.

Ia mengatakan ketidaksesuaian antara budaya yang ingin dibangun perusahaan dan fasilitas di tempat kerja dapat berdampak terhadap pembentukan budaya perusahaan serta produktivitas pekerja.

Karena itu, ruang kerja perlu dirancang fleksibel untuk mengakomodasi berbagai aktivitas, mulai dari kolaborasi, pertemuan kelompok kecil, hingga pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi dan privasi.

Selain kebutuhan saat ini, perencanaan ruang kerja juga perlu mempertimbangkan perkembangan organisasi dalam lima hingga 10 tahun mendatang, termasuk kemungkinan perubahan jumlah pekerja dan pola kerja.

“Jadi ketika ada perubahan, tidak perlu melakukan investasi besar lagi karena ruangnya sudah bisa beradaptasi,” katanya.

Sementara itu, President Director Vivere William Simiadi mengatakan perubahan kebutuhan perusahaan, pekerja, dan organisasi membuat pengembangan ruang kerja membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

“Perubahan terkait workspace cukup cepat, kebutuhan dari perusahaan, orang, dan organisasi juga berubah. Kami merasa perlu satu wadah bagaimana kita sama-sama meningkatkan industri ini,” katanya.

Menurut dia, pengembangan ruang kerja melibatkan berbagai pihak dengan perspektif berbeda, antara lain desainer, kontraktor, manufaktur, konsultan properti, pemilik properti, dan pengguna ruang.

Kolaborasi antarpihak tersebut dinilai dapat membantu menghasilkan ruang kerja yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna dan perkembangan organisasi.

Pembahasan mengenai perkembangan ruang kerja tersebut menjadi bagian dari DFL Conference 2026 bertema “The Connected Workspace: Built on Culture, Driven by People, Powered by Technology” yang digelar di Jakarta.