NADIKABAR.COM β€” Filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam menjadi salah satu perspektif lokal Bali dalam menjawab tantangan etika global di Global Bali Ethics Forum (GEF) 2026.

Presiden Globethics Dietrich Werner dalam pembukaan forum Global Ethics Forum (GEF) di Sanur, Denpasar, Bali, Rabu, mengatakan Bali menjadi tempat yang bermakna untuk membahas tata kelola yang bertanggung jawab karena memiliki filosofi yang menempatkan keharmonisan sebagai dasar kesejahteraan manusia.

β€œDengan mempertemukan kearifan lokal ini dengan perspektif global, kami berharap GEF 2026 dapat mendorong pendekatan tata kelola yang praktis, yang menempatkan manusia, relasi, dan masa depan bersama kita sebagai pusat pengambilan keputusan,” ujar Werner.

Menurut dia, filosofi Tri Hita Karana dapat menjadi pengingat bahwa kesejahteraan tidak hanya ditentukan oleh kemajuan material, tetapi juga oleh hubungan yang harmonis antara manusia, kehidupan spiritual, dan lingkungan.

Dalam konteks perkembangan teknologi, pendekatan tersebut relevan ketika kecerdasan artifisial dan platform digital semakin memengaruhi kehidupan masyarakat.

Sementara itu, Wakil Presiden Globethics sekaligus pendiri Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA) Dicky Sofjan mengatakan gagasan tersebut muncul seiring meningkatnya kebutuhan terhadap ruang dialog lintas negara, budaya, dan disiplin ilmu untuk membahas persoalan etika secara berkelanjutan.

β€œGlobethics bersama mitra sedang merencanakan, atau mempertimbangkan, untuk membentuk apa yang saya sebut sebagai Asia-Pacific Regional Ethics Forum,” kata Dicky.

Dicky menilai forum semacam itu semakin relevan di tengah kondisi global yang ditandai ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas atau dikenal dengan istilah VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity).

Dia menjelaskan persoalan lingkungan juga menjadi perhatian, termasuk kebakaran hutan yang dipicu kekeringan berkepanjangan dan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.

Dampaknya tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga menimbulkan kabut asap yang memengaruhi sejumlah negara di kawasan.

Di sisi lain, kata dia, perkembangan kecerdasan artifisial (AI) dan teknologi baru mendorong masyarakat untuk mempertanyakan kembali posisi manusia, arah kemajuan, serta peran moralitas dan etika dalam pengambilan keputusan.

Forum internasional itu untuk pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia dengan mempertemukan sekitar 200 peserta dari 18 negara.

Forum yang digelar Globethics bersama Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA) dan lebih dari 35 mitra regional serta internasional tersebut mengusung tema Responsible Governance in a Fragmented World: Ethical Pathways to Human Flourishing in Business, Technology and Policy.