NADIKABAR.COM — Truk pembawa sound horeg lagi-lagi menjadi sorotan. Gara-garanya, efek getaran yang ditimbulkan sound horeg diduga membuat runtuh kanopi sebuah apotek di Jember, Jawa Timur. Kanopi yang runtuh itu menimpa seorang lansia, hingga berujung meninggal dunia. Buat pelajaran, ini bahayanya sound horeg buat lingkungan sekitar.

Seperti diungkapkan pengamat transportasi Djoko Setijowarno, sound horeg umumnya dibawa menggunakan truk dengan dimensi lebar yang berlebihan. Maka tidak heran ketika ada truk sound horeg yang tidak muat melewati jembatan, gapura, atau perumahan warga, berujung bagian bangunan tersebut dihancurkan.

"Sampai ada fatwa haram (sound horeg) dari Ponpes di Jawa Timur, itu kan artinya (sound horeg) sudah dianggap sebagai hal yang berlebihan juga memprihatinkan. Misal, rumah masyarakat, jembatan, sampai gapura, itu dirusak demi truk sound horeg yang berdimensi besar itu bisa lewat. Belum lagi suara yang dihasilkan sound horeg tentu juga akan mengganggu warga yang punya anak kecil dan warga yang sedang sakit," bilang Djoko kepada NadiKabar beberapa waktu lalu.

Selain itu, menurut pakar kesehatan Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, dr. Gina Noor Djalilah SpAMM., tingkat suara yang dihasilkan sound horeg yang mencapai 120-135 desibel (dB) juga melebihi ambang batas aman bagi telinga manusia, sehingga berbahaya.

"Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan tingkat kebisingan tidak lebih dari 70 dB. Sementara paparan di atas 85 dB sudah berisiko merusak, jika terpapar dalam waktu lama. Suara sound horeg jauh melampaui batas itu," kata Gina