NADIKABAR.COM — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan meledakkan Iran, saat upaya diplomatik antara kedua negara kembali menemui jalan buntu.
Dalam upaya untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran, Trump mengatakan dirinya harus memutuskan apakah akan semakin memicu eskalasi konflik atau mencapai kesepakatan dengan Iran.
Ketika ditanya oleh wartawan mengenai rencananya dalam menghadap para pejabat Iran, seperti dilansir TRT World, Kamis (1/10/2026), Trump menjawab: "Mungkin akan meledakkan mereka."
"Kita harus mengambil keputusan itu: Apakah kita meledakkan mereka atau membuat kesepakatan," kata Presiden AS itu.
"Namun waktunya sudah tiba. Situasi ini akan segera berakhir, dengan satu atau lain cara," sebutnya.
Pernyataan terbaru Trump itu mengisyaratkan bahwa keputusan mungkin akan segera diambil, meskipun dia tidak merinci langkah selanjutnya.
Beberapa pekan terakhir, Trump berulang kali menyatakan bahwa dirinya sedang mempertimbangkan opsi antara tindakan militer lebih lanjut atau kesepakatan dengan Teheran.
Dia membantah laporan-laporan media belakangan ini yang menyebutkan bahwa dirinya bersedia menawarkan pelonggaran sanksi ekonomi dan pencairan dana Iran yang dibekukan, sebagai imbalan atas kemajuan nyata terkait program nuklir negara tersebut.
Pada akhir pekan lalu, Trump menolak usulan terbaru Iran yang bertujuan meredakan ketegangan dan membuka kembali Selat Hormuz yang strategis. Usulan itu diserahkan Teheran melalui mediator Qatar di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York.
Trump mengakui dirinya menolak usulan tersebut karena syarat-syarat yang diajukan Iran "tidak dapat diterima". Dia juga mengharapkan adanya negosiasi lanjutan dengan Teheran, sembari memperingatkan para pejabat Iran untuk tidak "terlalu percaya diri dengan posisi tawar mereka" seperti dalam perundingan sebelumnya.
Sebelumnya, menurut laporan media Axios, Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio "mengusir" delegasi Iran, termasuk Menlu Abbas Araghchi, menyusul buntunya negosiasi diplomatik kedua negara.
Perintah Rubio itu diberikan setelah Gedung Putih sempat memperkirakan adanya kemungkinan kemajuan dalam perundingan dengan Iran pada Senin (28/9) pagi waktu setempat. Namun menjelang sore hari, menjadi jelas bahwa negosiasi tersebut menemui jalan buntu.
Laporan tersebut menekankan bahwa meskipun delegasi Iran sebenarnya telah dijadwalkan terbang meninggalkan New York, perintah Rubio itu dipandang sebagai teguran diplomatik yang sangat tidak biasa dan mencerminkan ketegangan antara kedua negara.