NADIKABAR.COM — Presiden Donald Trump memprediksi Amerika Serikat (AS) dan Kuba akan mencapai kesepakatan. Ia pun tidak berpikir tindakan militer akan diperlukan untuk mencapai kesepakatan itu.

"Saya akan mengatakan bahwa Kuba dan kami akan membuat kesepakatan. Saya tidak berpikir kami akan membutuhkan militer," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, seperti dilansir Reuters, Sabtu (26/9/2026).

Pemerintahan Trump secara terbuka menyatakan bahwa tujuannya adalah mengubah pemerintahan Kuba. Blokade minyak yang diberlakukan AS sejak awal tahun ini telah memberikan tekanan berat terhadap negara tersebut, yang tengah menghadapi kelangkaan bahan bakar dan pemadaman listrik yang diperparah oleh infrastruktur yang mengalami kerusakan.

"Kami ingin membantu Kuba," kata Trump sebelum berangkat ke Tennessee. "Kami ingin membuka Kuba bagi rakyat kami."

Sebelumnya, dalam pidatonya di Majelis Umum PBB pada Selasa, Trump menyebut Kuba sebagai negara gagal dan mengatakan "kebebasan akan datang" ke negara kepulauan tersebut.

Dilansir BBC, Selasa (23/9/2026), awalnya Trump menyoroti Kuba dengan menyebutnya sebagai "negara yang benar-benar gagal". Trump lalu mengatakan rezim negara Kuba akan jatuh.

Ia menyatakan bahwa pemerintahannya sedang bernegosiasi dengan Kuba dan mengupayakan "perubahan mendasar".

Delegasi Kuba lalu meninggalkan ruangan saat Trump melanjutkan pidatonya tersebut.

Diketahui, selama setahun terakhir, Trump semakin vokal dalam mengkritik pemerintahan komunis Kuba. Trump mengatakan bahwa pemerintah Kuba berada di bawah "tekanan luar biasa" dan sedang "mengalami kegagalan yang belum pernah terjadi sebelumnya".

Namun, AS belum memberikan gambaran rinci mengenai seperti apa perubahan yang mereka harapkan akan terjadi di Kuba.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez bereaksi dengan marah terhadap komentar Trump. Ia menuduh presiden AS tersebut menyebarkan "kebohongan".

"Pemerintah AS tidak mampu menerima kenyataan bahwa Kuba berhak menjadi negara yang berdaulat penuh dan merdeka," tulis Bruno Rodriguez di platform X.