Di tengah kritik itu, muncul pula pandangan bahwa solusi tidak harus selalu datang dari perubahan struktur COP. Sebagian pihak berpendapat negara-negara yang ingin bergerak lebih cepat dapat membangun koalisi di luar kerangka formal PBB. Pendekatan semacam itu mulai terlihat setelah COP30 di Brasil.
Meski dokumen akhir dinilai lemah, Brasil ketika itu menawarkan peta jalan sukarela untuk mempercepat transisi menjauhi bahan bakar fosil. Negara-negara yang tertarik mendorong agenda tersebut kemudian menggelar pertemuan lanjutan di Kolombia pada April tahun ini, di luar proses resmi PBB.
Analis iklim dari lembaga pemikir E3G, Cosima Cassel, menyebut model ini sebagai pendekatan "jalur ganda" atau dual-track.
Menurutnya, negosiasi formal berbasis konsensus tetap diperlukan untuk memberikan arah, menetapkan komitmen kolektif, serta menciptakan ruang bagi negara-negara untuk mengidentifikasi hambatan bersama. Namun, di luar jalur formal itu, perlu dibangun "agenda aksi" yang memungkinkan kelompok negara tertentu bergerak lebih cepat dalam isu-isu spesifik.
Turki tampaknya mengadopsi pendekatan tersebut dalam COP31. Tuan rumah aktif mendorong berbagai inisiatif praktis, termasuk upaya membangun dukungan bagi komitmen global elektrifikasi.
Kepala iklim PBB Simon Stiell bahkan menilai diplomasi iklim telah memasuki babak baru yang dia sebut sebagai era implementasi.
Bagi Stiell, persoalan utama kini bukan lagi kekurangan janji, melainkan kekurangan pelaksanaan. Dunia sudah memiliki target, deklarasi, dan berbagai kesepakatan. Yang belum cukup adalah kemauan politik untuk mewujudkannya.
"Kita harus terus mengembangkan cara kerja kita untuk era baru ini," kata Stiell dalam pidatonya di Istanbul pada Februari lalu.
Pernyataan itu mencerminkan dilema yang membayangi COP31. Setelah puluhan tahun negosiasi, dunia tidak lagi kekurangan komitmen iklim. Yang dipertanyakan adalah apakah sistem yang menghasilkan komitmen-komitmen itu masih cukup cepat untuk menghadapi krisis yang terus memburuk. Dalam perlombaan melawan pemanasan global, waktu tampaknya bergerak lebih cepat daripada diplomasi.