NADIKABAR.COM — Universitas Brawijaya (UB) Malang berkolaborasi bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) merancang strategi melestarikan sumber daya air berkelanjutan, yang menitikberatkan pada upaya menjaga area resapan dan ketepatan tata kelola pembangunan.
Rektor Universitas Brawijaya Prof Widodo ditemui seusai International Water Innovation Series World Water Monitoring Day di Gedung Fakultas Teknik kampus setempat, Kota Malang, Jawa Timur, Jumat, mengatakan, keberadaan area resapan air perlu dipastikan terjaga di tengah pesatnya perkembangan pembangunan wilayah perkotaan, dengan begitu potensi terjadinya bencana kekeringan di masa depan bisa dicegah.
"Air kan merupakan sumber kehidupan dan kalau sudah tidak ada hidup kita sebagai manusia akan susah, apalagi resapannya semakin habis maka tidak ada lagi tampungan, pasti akan kekeringan," kata Prof Widodo.
Ia menyampaikan, saat ini sungai maupun mata air, khususnya di daerah Malang sudah mulai mengering karena berkaitan dengan berkurangnya daerah resapan air karena telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian maupun hunian.
Kondisi tersebut memantik keprihatinan dari pihak-pihak di dalam forum tersebut, sehingga bersama-sama berupaya merumuskan sebuah langkah strategis untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Selain itu, Prof Widodo mendorong pemerintah daerah agar meningkatkan kepeduliannya terhadap pelestarian SDA dengan menguatkan upaya konservasi.
"Kalau kita belajar ke negara-negara maju, seperti Jepang sudah melihat pembangunan terkait air untuk 50-100 tahun ke depan," ucapnya.
Di tempat yang sama, Kepala Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Luki Subehi, menyampaikan, langkah terpenting dalam upaya pelestarian SDA juga melihat pada konsistensi pelaksanaan monitoring jangka panjang dengan melihat pada karakteristik setiap daerah.
Ia menegaskan, eksistensi sumber daya air akan berdampak pada berbagai program yang telah diinisiasi oleh pemerintah pusat, seperti ketahanan pangan dan ketahanan energi.
"Kami akan lebih memperkuat lagi kajian pemetaan ketersediaan air, khususnya di Jawa Timur dan ini penting sekali," katanya.
Oleh karenanya, Luki menekankan agenda International Water Innovation Series World Water Monitoring Day menjadi sebuah sarana membangun kesadaran banyak pihak tentang pelestarian air.
"Untuk bencana ini kan berkaitan dengan tata ruang, maka dari itu harus bijak dalam membangun," kata dia.