Menurut dia, bila berangkat dari gastronomi Indonesia, makanan dipandang tidak hanya sebagai komoditas, tetapi juga sebagai nilai budaya, kemudian ada nilai histori, ada filosofi, dan juga sebagai identitas daerah atau identitas bangsa.

"Oleh karena itu, dengan mengintegrasikan gastronomi itu bisa mengintegrasikan pertanian, pangan, kesehatan, budaya, nilai ekonomi atau kreativitas dan inovasi, serta identitas," katanya.

Menurut dia, semangat ini yang selalu dikembangkan supaya orang muda mempunyai inovasi-inovasi untuk tidak sekadar produksi, tetapi juga mengemas dalam satu ekosistem gastronomi.

"Karena tentunya itu mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi, dibandingkan hanya produksi sebagai komoditas saja," katanya.