NADIKABAR.COM — Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Foodbank of Indonesia (FOI) mengumpulkan pemuda dari berbagai daerah di Indonesia untuk berinovasi menjaga pangan demi masa depan melalui forum Rembug Pangan Orang Muda (RPOM) Summit 2026.
Founder FOI Muhammad Hendro Utomo di Yogyakarta, Jumat, mengatakan RPOM Summit 2026 pertemuan puncak pimpinan-pimpinan muda, orang muda dari banyak daerah, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Pulau Rote, dari Sulawesi, Sumatera dan daerah lain di Indonesia.
"Dan ini sengaja diambil bertepatan momentum Sumpah Pemuda, karena untuk menyimpulkan bahwa orang muda bersatu untuk memerdekakan Indonesia dalam arti tidak ada kelaparan, jadi merdeka 100 persen," kata dia usai membuka forum.
Menurut dia ada sebanyak 47 anak muda yang dipilih untuk berkegiatan sejak 30 Oktober-1 November 2026 tersebut yang dimulai dari pembekalan, dialog anak muda bersama pakar, kemudian kunjungan ke lapangan berkaitan usaha pertanian dan pengolahan pangan lokal.
"Rencana ke daerah pertanian Semanu Gunungkidul, mereka tinggal di rumah petani, kemudian ke ladang, setelah itu kita dialog lagi, merumuskan apa persoalannya dan bagaimana solusi-solusinya yang tepat bagi anak muda," katanya.
Menurut dia, forum yang dibagi ke dalam tim tersebut nantinya akan ditutup dengan simulasi bisnis, bagaimana pangan-pangan lokal dijual, dan tantangan siapa yang bisa menjual paling banyak dengan biaya efisien itu yang paling unggul inovasi dan kreativitas.
"Dan harapannya setelah kembali ke daerah masing-masing mereka punya inovasi, punya kreativitas, punya pertukaran pengalaman. Dan pertukaran masalah, serta bagaimana solusinya, kira-kira itu harapannya," katanya.
Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM Prof Eni Harmayani menekankan para pemuda untuk bisa mengubah dari yang selama ini menjadi konsumen menjadi pencipta peningkatan nilai dari pangan lokal.
"Jadi dari konsumen menjadi pencipta peningkatan nilai tambah untuk pangan lokal. Kemudian juga bisa sebagai 'community builder' untuk mengintegrasikan pangan lokal ini menjadi kebangkitan pangan nasional," katanya.
Menurut dia, bila berangkat dari gastronomi Indonesia, makanan dipandang tidak hanya sebagai komoditas, tetapi juga sebagai nilai budaya, kemudian ada nilai histori, ada filosofi, dan juga sebagai identitas daerah atau identitas bangsa.
"Oleh karena itu, dengan mengintegrasikan gastronomi itu bisa mengintegrasikan pertanian, pangan, kesehatan, budaya, nilai ekonomi atau kreativitas dan inovasi, serta identitas," katanya.
Menurut dia, semangat ini yang selalu dikembangkan supaya orang muda mempunyai inovasi-inovasi untuk tidak sekadar produksi, tetapi juga mengemas dalam satu ekosistem gastronomi.
"Karena tentunya itu mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi, dibandingkan hanya produksi sebagai komoditas saja," katanya.