"Jadi memang sempat ada pelemparan panah busur, batu dan sebagainya, bahkan ada kendaraan yang terbakar tadi," tuturnya.
Polisi yang turun membubarkan tawuran kembali mendapat perlawanan dari massa yang melempari batu ke arah petugas. Situasi memanas saat polisi melepaskan tembakan gas air mata ke arah massa.
Arya turun langsung memimpin pembubaran massa hingga berupaya menenangkan warga yang bertahan di objek sengketa. Aparat yang melakukan penyisiran juga menemukan busur panah, petasan hingga bom molotov.
"Ini jadi ada bentrokan. Kita jaga ketertiban, kami upayakan agar bisa masuk ke dalam jangan sampai ada bentrokan agar situasi kondusif," ucap Arya.
Arya meminta agar kedua belah pihak yang bertikai bisa menahan diri. Dia menegaskan, segala tindakan atau kebijakan di objek lahan sengketa harus memiliki dasar hukum yang jelas dan mengacu putusan pengadilan.
"Jadi tetap sebenarnya dasarnya dari pengadilan. Kita hanya membantu kalau ada dasar yang jelas. Kalau dasarnya masih belum, kita menunggu," imbuh Arya.
Sementara itu, warga setempat, Husni mengklaim tawuran pecah setelah oknum ormas diduga menyerang lebih dulu. Sekelompok orang datang menyerang menggunakan busur hingga menggunakan petasan.
"Mereka datang mereka menyerang menggunakan busur, ada menggunakan petasan dan segala macam alat lainnya," ucap Husni kepada NadiKabar di lokasi.
Husni mengatakan, sejumlah warga dilaporkan luka akibat terkena busur panah. Satu bayi juga dilarikan ke rumah sakit (RS) lantaran terdampak gas air mata saat massa yang terlibat tawuran dibubarkan.