Ia mencontohkan, dalam sehari perajin yang menggunakan 1 kuintal kedelai bisa menghasilkan 22 batang tempe. Jika satu batang dijual Rp 10.000 dan dipotong menjadi tujuh bagian, omzet kotornya Rp 1,54 juta. Namun, setelah dikurangi berbagai biaya produksi, keuntungan yang tersisa sangat tipis.
"Harga jual tahu dan tempe belum naik, alhasil disiasati mengecilkan ukuran. Sebagian besar mengurangi produksi, satu dua sudah mulai ada yang menghentikan produksinya karena dampak kedelai mahal," lanjutnya.
Data perbandingan biaya produksi yang disampaikan Gakoptindo menunjukkan tekanan biaya perajin memang tidak hanya berasal dari kedelai. Kurs dolar AS yang berada di kisaran Rp 14.500-15.500 pada 2022 kini diperkirakan Rp 18.000. Harga plastik kemasan PP/PE juga meningkat dari sekitar Rp 20.000-25.000/kg pada 2022 menjadi Rp 35.000-45.000/kg pada 2026.
Gakoptindo mencatat ongkos ekspedisi/logistik yang menjadi indeks 100 pada 2022 kini berada di kisaran indeks 125-145. Harga minyak goreng Minyakita juga meningkat dari HET Rp 14.000/liter pada 2022 menjadi Rp 15.700/liter pada 2026.