NADIKABAR.COM — Universitas Hasanuddin (Unhas) memberdayakan perempuan di kawasan transmigrasi Weri Saharey, Kabupaten Fakfak, Papua Barat lewat pelatihan pengolahan pala menjadi sabun dan balsam. Pelatihan diharapkan dapat menjadi penghasilan tambahan bagi ibu rumah tangga di wilayah tersebut.
Unhas melalui Tim Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi (Kementrans) melaksanakan Pelatihan Pengolahan Pala bagi kelompok ibu rumah tangga di kawasan transmigrasi Weri Saharey, Kabupaten Fakfak, Rabu (9/9/2026). Pelatihan tersebut diikuti 20 orang ibu rumah tangga.
"Pelatihan memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis kepada peserta untuk mengolah pala menjadi produk turunan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, yaitu balsem dan sabun," kata ketua tim Ekspedisi Patriot Kementrans Unhas Dr Irma Andriani dalam keteranganya, Sabtu (12/9).
Melalui kegiatan ini, perempuan di kawasan transmigrasi Weri Saharey didorong agar tidak hanya berperan sebagai konsumen atau tenaga pendukung rumah tangga, tetapi mulai menjadi pelaku dalam proses hilirisasi komoditas lokal. Pembuatan sabun dan balsem berbasis pala Tomandin merupakan tahap pertama dari rangkaian program pemberdayaan perempuan berbasis komoditas pala.
"Pelatihan ini adalah tahap awal. Selanjutnya masih akan dilakukan pelatihan pengolahan lanjutan, yaitu pembuatan aromaterapi dan parfum berbahan dasar pala, serta pelatihan kewirausahaan," jelas Irma.
Menurutnya, keterampilan produksi perlu diikuti dengan pemahaman kewirausahaan agar kelompok ibu rumah tangga tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga memahami bagaimana membangun dan mengembangkan usaha.
"Kami berharap rangkaian kegiatan ini dapat membangun karakter wirausaha pada kelompok sasaran sehingga keterampilan yang diperoleh dapat berkembang menjadi usaha rumah tangga dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan rumah tangga," bebernya.
Selain pelatihan teknis, Tim Ekspedisi Patriot Unhas juga mulai membangun jejaring dengan pemangku kepentingan lokal dari unsur pemerintah yaitu kepala Distrik Fakfak Timur, pimpinan Desa Weri dan Saharey. Langkah ini penting untuk memastikan program tidak berhenti pada kegiatan pelatihan.
"Kegiatan bersama ini adalah wujud kolaborasi antar stakeholder. Harapan kami produk berbasis minyak atsiri pala yang diproduksi masyarakat hasil pendampingan kami nantinya dapat digunakan sebagai souvenir Fakfak dan Papua, karenanya membutuhkan dukungan dari kepala daerah dan seluruh jajaran, serta unsur dunia usaha," pungkas Irma.