"Kontribusi Xanana Gusmão berikutnya adalah diplomasi rekonsiliasi. Rekonsiliasi sering disalahpahami melupakan masa lalu. Sesungguhnya rekonsiliasi adalah keberanian untuk menghadapi sejarah tanpa memperlihatkan sejarah menguasai seluruh masa depan, ia mengakui luka, memelihara martabat korban," pungkasnya.

Promotor penganugerahan, Hafid Abbas menjelaskan terdapat empat alasan utama yang mendasari penganugerahan Doktor Honoris Causa kepada Xanana. Pertama, simbol perjuangan yang melahirkan sebuah bangsa.

"Xanana bukan hanya saksi sejarah lahirnya Republik Demokratik Timor-Leste, melainkan salah satu arsitek utamanya. Dirinya memimpin rakyatnya melewati masa-masa paling sulit dalam perjuangan menuju kemerdekaan, dari medan perlawanan hingga ke ruang-ruang diplomasi," jelas Hafid dalam keterangannya.

Kedua, mengubah luka konflik menjadi jembatan rekonsiliasi. Ia mengatakan, pertimbangan kedua berkaitan dengan kemampuan Xanana membangun rekonsiliasi setelah konflik Indonesia-Timor Leste.

"Tidak semua pejuang mampu hadir sebagai pendamai. Namun, Xanana memilih jalan yang lebih sulit, memaafkan tanpa melupakan, mengingat tanpa mewariskan kebencian. Dirinya mengajarkan kepada dunia bahwa kemenangan terbesar bukan mengalahkan lawan, melainkan memenangkan masa depan bersama," tambahnya.

Sedangkan ketiga, dari pejuang menjadi negarawan. Alasan ketiga terlihat dari peran Xanana pembangunan institusi, penguatan demokrasi, pembangunan nasional, serta perjuangan kepentingan Timor-Leste melalui jalur hukum dan diplomasi.

"Perjalanan tersebut menunjukkan kapasitas kepemimpinan dalam menghadapi fase pascakonflik. Kemerdekaan membutuhkan institusi yang kuat, demokrasi yang berjalan, serta kebijakan yang mampu menghadirkan harapan dan martabat bagi rakyat," katanya.

Kemudian keempat, mewariskan nilai perdamaian dan kemanusiaan. Dia menyebut keberanian, keteguhan, rekonsiliasi, perdamaian, demokrasi, dan kemanusiaan dinilai selaras dengan nilai yang dikembangkan Unhas.

"Unhas menghormati nilai yang diwakili seseorang. Dalam diri Xanana, kita menemukan keberanian yang berpadu dengan kerendahan hati, perjuangan yang berujung pada rekonsiliasi, serta kepemimpinan yang berpijak pada kemanusiaan," jelas.