NADIKABAR.COM — Uni Eropa (UE) dan sejumlah negara Asia Tenggara kini mendekati tahap akhir perundingan kesepakatan perdagangan bilateral. Jika tenggat waktu yang ada saat ini terpenuhi, UE akan memiliki kesepakatan dengan enam dari 11 negara ASEAN pada pertengahan tahun depan.
Perjanjian perdagangan bebas dengan Singapura dan Vietnam sudah berlaku. Sementara itu, negosiasi dengan Indonesia telah selesai dan Jakarta menargetkan penandatanganan kesepakatan pada Oktober, dengan implementasi ditargetkan mulai awal 2027.
Perundingan dengan Thailand, yang dimulai kembali pada 2023, telah memasuki putaran kesembilan. Sementara Malaysia melanjutkan kembali negosiasi pada awal 2025 setelah terhenti selama 13 tahun. Keduanya diperkirakan rampung pada akhir tahun ini atau awal 2027.
Awal pekan ini, UE dan Filipina juga mengumumkan telah mencapai "kesepakatan substansial" mengenai perjanjian perdagangan bebas. Kesepakatan tersebut kini diarahkan untuk difinalisasi secara resmi dalam beberapa bulan mendatang.
Berbicara kepada DW, Chris Humphrey, Direktur Eksekutif EU-ASEAN Business Council, mengatakan keterlibatan UE dengan ASEAN dalam perdagangan dan investasi kini berada pada "tingkat tertinggi sepanjang masa".
Perdagangan barang antara UE dan Asia Tenggara mencapai 274,9 miliar euro atau sekitar Rp5.610 triliun tahun lalu. Angka ini naik sekitar 6 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan lebih dari 50 persen dibandingkan 177,9 miliar euro pada 2016, menurut data UE.
ASEAN kini menjadi mitra dagang barang terbesar ketiga UE di luar Eropa, setelah Amerika Serikat dan China.
Pekan ini, Manila menjadi tuan rumah ASEAN-EU Business Summit serta pertemuan ke-22 para menteri ekonomi ASEAN dan komisaris perdagangan UE. Kedua blok berkomitmen memperkuat kerja sama untuk menghadapi meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk kebijakan perdagangan sepihak dan konflik regional yang "secara kolektif mengancam tatanan internasional berbasis aturan."
Brussels tengah memperluas jaringan kesepakatan perdagangannya di berbagai negara untuk membuka pasar baru sekaligus membangun rantai pasok yang lebih tangguh.