Kedua pihak sepakat membekukan perundingan pada 2009. Setelah itu, Brussels beralih ke negosiasi bilateral dengan masing-masing negara anggota ASEAN.

Hingga kini, perbedaan tersebut masih menjadi tantangan utama. ASEAN mencakup Singapura, salah satu negara dengan ekonomi terkaya di dunia, serta negara-negara berkembang dan negara paling kurang berkembang. Kondisi ini membuat kedua pihak sulit menyepakati komitmen bersama yang dapat diterima Brussels.

"Selain itu, memenuhi standar sosial, ketenagakerjaan, dan lingkungan UE yang tinggi juga sulit bagi negara-negara ASEAN yang kurang berkembang," kata Gerstl.

Meski belum ada prospek langsung untuk mencapai kesepakatan penuh antarkawasan, penyelesaian sejumlah kesepakatan bilateral yang tengah dinegosiasikan akan memberi UE akses perdagangan preferensial dengan sebagian besar ekonomi terbesar ASEAN. Hal ini juga menunjukkan bahwa Asia Tenggara semakin mendapat tempat dalam agenda perdagangan Brussels.

Namun bagi Humphrey, kesepakatan bilateral tersebut seharusnya menjadi titik awal, bukan tujuan akhir. Ia khawatir Komisi Eropa belum bersedia melangkah menuju kesepakatan antarkawasan.

"Tahun 2027 menandai 50 tahun hubungan UE-ASEAN. Kami berharap Komisi Eropa akan menganggap tonggak ini penting dan meningkatkan upaya membangun arsitektur ekonomi antarkawasan," katanya.

"Jika tidak, ASEAN akan menganggap UE tidak serius terhadap kawasan ini."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris