Asia Tenggara berada di pusat rantai pasok untuk semikonduktor, elektronik, kendaraan listrik, dan baterai. Investasi juga terus mengalir ke sektor pusat data, energi terbarukan, dan layanan digital.
Sebuah artikel International Monetary Fund (IMF) yang diterbitkan bulan ini menyebut 11 negara ASEAN telah membentuk blok ekonomi senilai 4,5 triliun dolar AS, dengan pertumbuhan lebih dari 4,5 persen per tahun.
Pertumbuhan ekonomi tersebut, ditambah upaya perusahaan multinasional untuk mendiversifikasi produksi di luar China, membuat akses ke pasar Asia Tenggara semakin menarik bagi perusahaan-perusahaan Eropa.
Alfred Gerstl, pakar hubungan internasional Indo-Pasifik dari Universitas Wina, mengatakan kepada DW bahwa perubahan geopolitik dan geoekonomi turut mempercepat kerja sama antara kedua kawasan.
Menurutnya, kebijakan perdagangan proteksionis dan tidak menentu Presiden AS Donald Trump menjadi salah satu pendorong utama. Sementara itu, strategi UE untuk mengurangi risiko ketergantungan terhadap China dan mendiversifikasi rantai pasok semakin meningkatkan arti penting strategis Asia Tenggara.
Kemitraan yang lebih kuat dengan Eropa juga membantu negara-negara Asia Tenggara mendiversifikasi hubungan ekonominya, sehingga tidak terlalu bergantung pada Cina, Amerika Serikat, atau satu mitra tertentu.
EU-ASEAN Business Council, kata Humphrey, mendorong pembentukan kerangka ekonomi antarkawasan yang memiliki jalur jelas menuju kesepakatan perdagangan bebas antara UE dan ASEAN.
"Ini dapat dilakukan dengan pendekatan modular, misalnya dimulai dengan Perjanjian Perdagangan Digital dan Perjanjian Perlindungan Investasi antarkawasan," kata Humphrey kepada DW.
Gagasan tersebut sebenarnya bukan hal baru. UE dan ASEAN memulai negosiasi untuk kesepakatan antarkawasan pada 2007. Namun, perundingan terhambat oleh besarnya perbedaan kondisi ekonomi negara-negara ASEAN serta perbedaan pandangan mengenai cakupan kesepakatan.