NADIKABAR.COM β€” Dana anak Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Children's Fund (UNICEF) dan Universitas Nusa Cendana (Undana) menjajaki kerja sama memperkuat penanganan masalah gizi, mempercepat penurunan stunting dan meningkatkan ketahanan pangan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

β€œUndana memiliki sumber daya akademik dan beragam keahlian yang dapat disinergikan untuk mempercepat penanganan masalah gizi,” kata Chief Nutrition UNICEF Indonesia Mamadou Ndiaye dalam audiensi bersama pimpinan Undana di Kupang, Kamis.

Ndiaye mengatakan penjajakan tersebut bertujuan membahas penguatan kapasitas perguruan tinggi dalam mendukung upaya pemerintah menangani persoalan gizi anak, khususnya di wilayah NTT.

Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Biro Perencanaan dan Kerja Sama Undana itu juga membahas gagasan pembentukan Center of Excellence atau pusat keunggulan yang berfokus pada pangan dan gizi di wilayah kepulauan serta lahan kering Indonesia Timur.

Pusat keunggulan tersebut diharapkan menjadi wadah kolaborasi riset perguruan tinggi, penyusunan kebijakan dan pendampingan masyarakat untuk menghasilkan solusi berbasis potensi pangan lokal.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), prevalensi stunting di NTT pada tahun 2025 tercatat sebesar 20,2 persen atau sebanyak 65.336 balita dari 324.011 balita yang diukur di Posyandu.

Wakil Rektor IV Undana, Prof Philiphi de Rozari mengatakan kondisi NTT sebagai wilayah semi-arid dengan curah hujan terbatas membutuhkan pendekatan berbasis teknologi untuk mengoptimalkan produksi pangan dan pemenuhan gizi masyarakat.

Menurut dia, riset Undana dapat diarahkan untuk mendukung program pemerintah, termasuk Badan Gizi Nasional dan program Makan Bergizi Gratis, melalui pengembangan komoditas lokal yang memiliki nilai gizi dan ekonomi.

Komoditas yang berpotensi dikembangkan, antara lain sorgum, jagung, kacang hijau, dan sapi NTT. Selain itu, sejumlah produk olahan pangan lokal, seperti jagung bose, puding kelor, susu sapi, rumput laut, dendeng, dan alpukat mentega dari Soe juga dapat dioptimalkan untuk meningkatkan asupan gizi dan pendapatan masyarakat.

Undana juga menawarkan pengembangan sektor perikanan dan budi daya untuk memperluas akses masyarakat terhadap sumber protein hewani. Komoditas yang menjadi perhatian mencakup ikan air tawar, udang vannamei, ikan kerapu, kakap, lobster, rumput laut, dan teripang.

Philiphi menilai upaya penurunan stunting perlu dilakukan secara terpadu, karena persoalan gizi tidak hanya berkaitan dengan pelayanan kesehatan, tetapi juga ketersediaan pangan bergizi dan kemampuan ekonomi keluarga.

Karena itu, pemberdayaan petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah melalui penerapan teknologi produksi dan budi daya berkelanjutan dinilai penting untuk memperkuat kemandirian pangan masyarakat.

Penjajakan kerja sama tersebut dihadiri oleh Prof Doppy Roy Nendissa, Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Undana, Yefri C. Adoe, serta Subkoordinator Kerja Sama, Heppy Y. Haning. Kedua pihak berkomitmen menindaklanjuti pembahasan dengan menyusun program yang lebih spesifik dan terukur untuk mendukung perbaikan gizi serta ketahanan pangan di NTT.