NADIKABAR.COM — Sungai atau Kali Odo di Dusun Karangnongko, Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang punya keunikan tersendiri karena mata airnya mengalir saat musim kemarau dan kering saat musim penghujan. Pakar menyebut hal ini dapat terjadi karena anomali hidrologi.
Guru Besar Keairan Teknik Sipil Universitas Diponegoro, Prof Dr Ir Ign Sriyana MS, IPU, APEC Eng menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan anomali hidrologi dan memang sebenarnya tidak lazim ditemui.
"Dalam ilmu hidrologi dan hidrogeologi, fenomena ini disebut sebagai anomali hidrologi," kata Prof Sri, sapaan akrabnya saat ditemui NadiKabar di Semarang, Sabtu (29/8/2026).
"Karena dari hasil pantauan di lapangan terjadi fenomena yang tidak lazim di mana pada saat musim hujan volume air tanah tersebut airnya mengecil bahkan tidak mengalir, namun alirannya justru membesar saat musim kemarau," tambahnya.
Prof Sri menerangkan ada beberapa faktor yang dapat menciptakan anomali hidrologi sebagaimana yang terjadi di Kali Odo. Dugaan pertama yakni pengaruh waktu jeda aliran atau lag time.
"Air hujan memerlukan waktu untuk meresap atau melakukan infiltrasi melewati zona tidak jenuh air atau vadose zone, sebelum akhirnya mencapai zona jenuh air atau aquifer," terang Prof Sri.
Dijelaskannya bahwa akuifer merupakan lapisan tanah atau batuan yang mampu menyimpan dan mengalirkan air dalam jumlah besar. Lapisannya biasanya terdiri dari material berpori seperti pasir, kerikil, atau batuan retak sehingga air dapat mengalir dengan mudah.
"Akuifer dapat dibedakan menjadi dua jenis utama, yaitu akuifer bebas dan akuifer tertekan. Akuifer bebas berada dekat dengan permukaan tanah, sedangkan akuifer tertekan berada di bawah lapisan kedap air sehingga airnya lebih terlindungi," ujar Prof Sri.
Saat musim hujan, air hujan baru mulai meresap di dalam tanah, namun tidak bisa langsung mencapai lapisan akuifer yang dalam atau akuifer tertekan dalam waktu singkat. Prof Sri menuturkan faktor penyebabnya bisa karena kondusivitas hidrolik lapisan tanah atasnya yang lambat.
"Jika akuifer tersebut berada sangat dalam atau memiliki lapisan tanah atas dengan konduktivitas hidrolik yang lambat, air belum terkumpul pada sumur atau mata air," ungkap Prof Sri.